Postingan

Khatmul Aulia: Antara Mitos, Konsep Tasawuf, dan Batas Ortodoksi Islam

Oleh: Lukmanul Hakim Dalam khazanah Islam, istilah khatm (penutup) melekat kuat pada Nabi Muhammad SAW sebagai khataman nabiyyin (penutup para nabi). Hal ini ditegaskan secara jelas dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ahzab: 40) dan menjadi konsensus ulama bahwa tidak ada lagi nabi setelah beliau. Namun, berbeda dengan konsep kenabian, sebagian tokoh sufi memperkenalkan istilah khatmul aulia atau penutup para wali. Konsep ini tidak memiliki dasar langsung dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih, tetapi berkembang sebagai spekulasi metafisis dalam tradisi tasawuf. Secara etimologis, khatmul aulia berarti wali pamungkas atau penutup kewalian. Sebagian sufi berargumen bahwa sebagaimana kenabian ditutup oleh Nabi Muhammad, maka kewalian juga memiliki figur penutup. Ibn ‘Arabi (w. 1240 M), salah satu tokoh besar sufi, melalui Futuhat al-Makkiyyah dan Fusus al-Hikam , menegaskan bahwa khatmul auliya adalah figur yang menyempurnakan maqam kewalian, meskipun bukan berarti menutup eksistensi wali secara...

Maulid Nabi Muhammad SAW: Refleksi Kehidupan Rasul dalam Membentuk Karakter Umat

Oleh: Lukmanul Hakim Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain sebagai perayaan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, acara ini memiliki makna yang jauh lebih dalam, yaitu sebagai ajang refleksi untuk meneladani kehidupan Rasulullah dalam membentuk karakter umat. Maulid Nabi bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi sebuah kesempatan untuk mengevaluasi diri dan menghidupkan kembali ajaran-ajaran Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini akan menggali lebih dalam bagaimana Maulid Nabi dapat menjadi momen refleksi untuk membentuk karakter umat Islam yang lebih baik, serta menghidupkan nilai-nilai moral dan spiritual yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW sebagai Teladan Utama Nabi Muhammad SAW adalah contoh sempurna bagi umat manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, “Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu” (QS. Al-Ahzab: 21). Setiap aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW, dar...

Mengupas Tuntas Faham Jabariyah, Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan Maturidiyah dalam Teologi Islam

Oleh: Lukmanul Hakim Teologi Islam menawarkan berbagai pandangan mengenai hubungan antara kehendak Allah dan kehendak manusia. Beberapa aliran besar dalam teologi Islam, seperti Jabariyah , Mu'tazilah , Asy'ariyah , dan Maturidiyah , memiliki perspektif yang berbeda dalam menjelaskan konsep kebebasan manusia, takdir, dan tanggung jawab moral. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai keempat faham tersebut, dengan merujuk pada berbagai referensi yang relevan untuk memahami perbedaan dan persamaan di antara mereka. 1. Faham Jabariyah: Determinisme Absolut Faham Jabariyah adalah aliran yang paling dikenal dengan pandangannya yang deterministik. Aliran ini mengajarkan bahwa segala perbuatan manusia sudah ditentukan oleh Allah sejak zaman azali. Dalam pandangan Jabariyah, manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih atau bertindak secara independen karena segala sesuatu sudah digariskan oleh takdir yang mutlak. Pandangan Tentang Takdir dan Kebebasan: Takdir : Jab...

Penyebab Ajaran-Ajaran Sempalan Diikuti: Perspektif Sosial dan Psikologis

Oleh: Lukmanul Hakim Dalam konteks agama, ideologi, dan kepercayaan, ajaran-ajaran sempalan merujuk pada aliran-aliran yang menyimpang dari ajaran utama yang diterima oleh mayoritas. Ajaran-ajaran ini seringkali menawarkan solusi atau perspektif yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan atau keinginan individu, meskipun sering kali melenceng dari nilai-nilai yang telah mapan. Fenomena ajaran sempalan yang diikuti oleh sebagian orang menunjukkan dinamika sosial dan psikologis yang kompleks. Artikel ini akan mengulas penyebab-penyebab mengapa ajaran-ajaran sempalan bisa menarik perhatian dan diikuti, serta dampak dari kepercayaan terhadap ajaran tersebut. 1. Krisis Sosial dan Ekonomi Ketika sebuah masyarakat mengalami ketidakstabilan ekonomi atau sosial, banyak individu merasa kehilangan arah. Krisis ini bisa berupa kemiskinan, pengangguran, atau ketidakpastian politik yang menciptakan ketegangan psikologis. Dalam kondisi tersebut, ajaran sempalan seringkali menawarkan penjelasan ya...

Ilmu Ladunni: Antara Karunia Ilahi dan Klaim Menyesatkan

Oleh: Lukmanul Hakim Pendahuluan Dalam wacana keagamaan Islam, sering muncul istilah ilmu ladunni . Konsep ini menjadi populer terutama ketika ada individu yang mengklaim mendapatkan pengetahuan langsung dari Tuhan tanpa melalui proses belajar formal. Tidak jarang, klaim tersebut menimbulkan kontroversi di masyarakat, bahkan berpotensi melahirkan sekte-sekte sempalan. Lantas, apa sebenarnya ilmu ladunni ? Apakah ia benar-benar ada dalam ajaran Islam? Bagaimana pandangan para ulama tentang konsep ini? Definisi Ilmu Ladunni Istilah ladunni berasal dari kata ladun (لَدُنْ) yang berarti “dari sisi” atau “langsung dari”. Jadi, ilmu ladunni berarti pengetahuan yang datang langsung dari sisi Allah. Rujukan utama istilah ini adalah Al-Qur’an, tepatnya kisah Nabi Musa dengan seorang hamba Allah (disebut sebagai Khidir) dalam QS. Al-Kahfi: 65: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan Kami ajarkan...

Menjaga Kewaspadaan terhadap Ajaran yang Menyimpang: Sebuah Dialog antara Klaim dan Objektivitas

Oleh: Lukmanul Hakim Perdebatan tentang ajaran yang dibawa oleh Lalu Dahlan di Kabupaten Lombok Tengah beberapa waktu lalu menggugah perhatian publik, terutama mengenai klaim-klaim keagamaan yang kontroversial. Sebuah pertemuan pada 29 Agustus 2025 yang dihadiri oleh berbagai pihak berwenang, seperti Kejaksaan Negeri, MUI, Kementerian Agama, FKUB, serta pihak keamanan, menyoroti ajaran-ajaran yang dianggap menyimpang. Namun, perdebatan ini tidak hanya mencakup soal klaim-klaim tersebut, tetapi juga mengarah pada pertanyaan lebih besar: Sejauh mana transparansi dan objektivitas dalam menanggapi suatu ajaran yang dianggap sesat? Ajaran Lalu Dahlan: Klaim yang Menimbulkan Kontroversi Lalu Dahlan, dalam pernyataannya, mengklaim telah menerima bisikan langsung dari Allah SWT mengenai ayat-ayat Al-Qur'an, memiliki sanad langsung dari Rasulullah SAW, serta mengaku sebagai penjelmaan rohani Nabi Muhammad SAW. Klaim-klaim ini memicu reaksi keras dari banyak kalangan, terutama para ulama ...

17+8 Tuntutan Rakyat: Apa yang Harus Dipenuhi oleh Pemerintah untuk Mewujudkan Keadilan Sosial?

  Oleh Lukmanul Hakim* Indonesia saat ini tengah menghadapi sejumlah tantangan besar dalam menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Ketimpangan sosial, politik, dan ekonomi masih menjadi masalah yang belum teratasi sepenuhnya. Dalam kondisi ini, suara rakyat semakin lantang menyuarakan tuntutan agar ada perubahan yang nyata, tidak hanya dalam kebijakan, tetapi juga dalam cara negara mengelola kesejahteraan warganya. Salah satu manifestasi dari keresahan rakyat Indonesia adalah gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat, yang kini menjadi simbol perjuangan untuk perubahan sistemik di Indonesia. Artikel ini akan membahas secara rinci mengenai tuntutan tersebut, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkan keadilan sosial yang sesungguhnya. Latar Belakang: Tuntutan sebagai Suara Kolektif Rakyat Pada 28—30 Agustus 2025, aksi demonstrasi besar-besaran terjadi di seluruh Indonesia sebagai respons terhadap situasi sosial-politik yang dinilai tidak berpiha...

Tanggapan MUI Kabupaten Lombok Tengah terhadap Ajaran Lalu Dahlan: Sebuah Klarifikasi dan Tindakan Tegas

Oleh: Lukmanul Hakim Pada tanggal 29 Agustus 2025, di Aula Kantor Desa Beraim, telah berlangsung pertemuan yang melibatkan sejumlah instansi terkait, antara lain Kejaksaan Negeri Lombok Tengah, Kementerian Agama Kabupaten Lombok Tengah, MUI Kabupaten Lombok Tengah, FKUB Kabupaten Lombok Tengah, Kepolisian, TNI, dan Kepala Desa Beraim. Pertemuan ini dipusatkan pada pembahasan mengenai ajaran-ajaran yang diklaim oleh Lalu Dahlan yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam yang sahih. Dalam pertemuan tersebut, MUI Kabupaten Lombok Tengah menyampaikan hasil telaah yang mendalam terkait dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Lalu Dahlan. Beberapa hal yang disoroti MUI terkait dengan ajaran ini adalah sebagai berikut. Penyimpangan yang Ditemukan dalam Ajaran L. Dahlan Mengaku Mendapatkan Bisikan Ayat Al-Quran Langsung dari Allah SWT Salah satu klaim yang kontroversial adalah pernyataan Lalu Dahlan yang mengaku mendapatkan wahyu atau bisikan ayat-ayat Al-Qur'an langsung dari Allah SWT. Dalam...

Maulid Nabi: Antara Prinsip dan Dampak — Telaah ala Dr. Rabiʽ Al-ʽAidi

Oleh: Lukmanul Hakim Dr. Rabiʽ Al-ʽAidi dari Yordania menekankan pentingnya membedakan antara asal-usul (prinsip) dan dampak (turunan) dalam memahami hukum perayaan Maulid Nabi. Prinsip pokoknya adalah kewajiban dan anjuran untuk mengagungkan Nabi Muhammad ﷺ, yang memiliki dasar kuat dalam al-Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman: “Supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya...” (QS. Al-Fath: 9). Dari prinsip inilah kemudian muncul berbagai dampak atau turunan, seperti pembacaan sirah Nabi, dzikir, shalawat, hingga perayaan Maulid. Menurut beliau, tidak perlu menuntut dalil khusus untuk setiap dampak, karena dalil sudah jelas pada prinsip utamanya. Selama bentuk turunan itu tidak bertentangan dengan syariat, maka ia tetap berada dalam koridor yang dibolehkan. Pandangan ini sejalan dengan banyak ulama yang menilai perayaan Maulid sebagai bid’ah hasanah . Imam Jalaluddin as-Suyuthi, misalnya, menulis risalah Husnul M...

Belajar Demokrasi dari Jalanan

Oleh: Lukmanul Hakim Hak Konstitusional yang Terabaikan Demonstrasi adalah wajah paling nyata dari demokrasi. Ia bukan sekadar kerumunan massa, melainkan instrumen konstitusional rakyat untuk mengoreksi jalannya kekuasaan. Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 dengan tegas menjamin: “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” Namun, praktik di lapangan sering kali bertolak belakang. Hak rakyat diperlakukan seolah ancaman bagi stabilitas, bukan bagian sah dari demokrasi. Aksi terbaru terhadap DPR memperlihatkan paradoks itu dengan gamblang. Sejak awal, massa bergerak dengan tertib dan terukur. Tetapi publik mencatat: tak ada satu pun anggota legislatif yang turun ke jalan mendengarkan aspirasi. Diamnya DPR menjadi bukti lemahnya komitmen representasi. Huntington dan Nelson (1976) dalam No Easy Choice menegaskan, partisipasi rakyat hanya bermakna jika kanal representatif terbuka. Bila pintu itu ditutup, protes kehilangan legitimasi formal dan rakyat ...