Postingan

Menampilkan postingan dengan label Seni

Suara Burung Dikenakan Royalti? Perlukah Revisi Konsep Fonogram?

Oleh: Lukmanul Hakim Isu royalti musik kembali menjadi perbincangan publik. Bukan semata soal tarif untuk pemakaian lagu di kafe, restoran, atau hotel, melainkan karena kabar mengejutkan: rekaman suara burung yang diputar di ruang publik pun bisa dikenakan royalti . Hal ini disampaikan oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dalam sosialisasi terkait Performing Rights baru-baru ini (Radar Sampit, 19/8/2025). Pertanyaannya, apakah fenomena ini sekadar salah paham, atau justru ada problem mendasar dalam konsep fonogram sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta? Antara Fonogram dan Musik: Sebuah Distingsi yang Kabur Dalam Pasal 1 angka 10 Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, fonogram didefinisikan sebagai “ fiksasi suara dari suatu pertunjukan atau suara lain, atau representasi suara, yang selain merupakan bagian dari sinematografi atau karya audiovisual .” Definisi ini cukup luas: bukan hanya suara musik, tetapi juga “suara lain” yang difiksasi. Di si...

Seni Kaligrafi Digital: Melestarikan Warisan dalam Bentuk Baru

Oleh: Lukmanul Hakim (Pemerhati Pemikiran Islam Kontemporer) Seni kaligrafi Islam adalah salah satu warisan budaya dan spiritual paling indah dan ikonik dalam peradaban Islam. Dari dinding masjid yang megah, halaman mushaf Al-Qur'an yang suci, hingga ukiran di batu nisan, kaligrafi telah lama menjadi manifestasi visual dari keagungan firman Allah dan keindahan bahasa Arab. Ia bukan sekadar tulisan, melainkan seni rupa yang sarat makna, menggabungkan ketelitian, estetika, dan spiritualitas. Namun, di era digital seperti sekarang, apakah seni tradisional ini akan tergerus zaman? Justru sebaliknya, seni kaligrafi digital menawarkan peluang emas untuk melestarikan dan mengembangkan warisan ini dalam bentuk baru, menjangkau audiens yang lebih luas, dan menginspirasi generasi mendatang. Kaligrafi, yang secara harfiah berarti "tulisan indah," berkembang pesat dalam peradaban Islam karena larangan penggambaran makhluk hidup secara visual dalam konteks ibadah, mendorong seniman un...

Wisata Halal: Mengunjungi Warisan, Merasakan Kedamaian

Oleh: Lukmanul Hakim Dalam dekade terakhir, istilah "wisata halal" semakin sering terdengar dan menjadi tren global dalam industri pariwisata. Lebih dari sekadar label, wisata halal merepresentasikan sebuah filosofi perjalanan yang tidak hanya mengeksplorasi keindahan alam dan budaya, tetapi juga menawarkan pengalaman yang selaras dengan nilai-nilai dan syariat Islam. Ini bukan hanya tentang destinasi Timur Tengah, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai peradaban Islam dapat diinternalisasi dalam sebuah perjalanan, memungkinkan wisatawan untuk mengunjungi warisan dan merasakan kedamaian spiritual. Wisata halal, pada dasarnya, adalah konsep perjalanan yang memenuhi kebutuhan Muslim. Ini mencakup ketersediaan makanan halal, fasilitas ibadah yang mudah diakses (masjid atau mushalla), privasi, tidak adanya aktivitas haram, serta lingkungan yang ramah keluarga. Namun, lebih dari itu, wisata halal juga menawarkan kesempatan untuk menyelami kekayaan peradaban Islam yang tersebar di...

Arsitektur Islam Kontemporer: Melampaui Ornamen, Merayakan Filosofi Kehidupan

Oleh: Lukmanul Hakim Ketika kita berbicara tentang arsitektur Islam, bayangan yang terlintas adalah kubah megah, menara menjulang, kaligrafi indah, dan motif geometris yang rumit. Elemen-elemen ini memang menjadi ciri khas yang memukau, merefleksikan keindahan estetika dan spiritualitas yang mendalam. Namun, di era kontemporer ini, pertanyaan yang muncul adalah: apakah arsitektur Islam hanya berkutat pada pengulangan ornamen masa lalu? Atau mampukah ia melampaui sekadar bentuk dan sentuhan historis, untuk benar-benar merayakan filosofi kehidupan Islam yang dinamis dan relevan dengan tantangan zaman? Arsitektur, dalam peradaban Islam, tidak pernah sekadar tentang membangun struktur fisik. Ia adalah manifestasi nyata dari pandangan dunia (weltanschauung) Islam, yang mencakup tauhid (keesaan Tuhan), keseimbangan (mizan), keteraturan (nizam), dan harmoni dengan alam (tawhidullah fil kaun). Para arsitek Muslim di masa lalu, seperti yang terlihat pada Masjid Cordoba atau Alhambra di Spanyol,...

Paradigma Musik dalam Islam: Kajian Historis dan Fikih Kontemporer

Oleh: Lukmanul Hakim Pendahuluan Perdebatan seputar hukum musik dalam Islam terus mencuat di berbagai ruang—dari mimbar khutbah hingga kolom komentar media sosial. Sebagian menyatakan bahwa musik adalah haram secara mutlak, sebagian lain menganggapnya mubah atau bahkan bisa bernilai ibadah jika disertai niat yang benar. Di tengah polemik tersebut, perlu ada kajian yang jernih dan kontekstual: bagaimana sebenarnya musik diposisikan dalam tradisi Islam klasik dan bagaimana ia ditafsirkan kembali di era kontemporer? Musik dalam Tradisi Islam Awal Dalam sejarah awal Islam, Al-Qur’an dan hadits memang tidak secara eksplisit menyebutkan istilah “musik” (al-mūsīqā) sebagai sebuah entitas hukum. Yang muncul lebih sering adalah istilah lahw al-ḥadīṡ (perkataan yang melalaikan) dalam QS. Luqman [31]: 6. Ayat ini sering dijadikan rujukan oleh mereka yang mengharamkan musik. Namun, para mufassir berbeda pendapat tentang makna lahw al-ḥadīṡ. Imam al-Qurthubi dalam Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-...

Nada dan Zikir: Di Mana Batas antara Musik dan Spiritualitas?

Oleh: Lukmanul Hakim Dalam tradisi Islam, perdebatan tentang musik dan spiritualitas bukanlah hal baru. Sebagian menganggap musik sebagai unsur yang melemahkan hati dan melalaikan jiwa, sementara yang lain justru menggunakannya sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah. Maka pertanyaannya muncul: apakah musik itu lawan dari zikir, atau justru bisa menjadi bentuk zikir itu sendiri? Musik: Ekspresi Rasa atau Jembatan Ruhani? Sejak awal sejarah manusia, musik telah menjadi bagian dari ekspresi batin , simbol rasa, dan dalam banyak kebudayaan, bahkan menjadi jembatan menuju Tuhan . Dalam konteks Islam sufistik, praktik seperti sama’ (mendengarkan musik rohani) dipandang sebagai salah satu metode menyentuh sisi terdalam manusia—ruh yang rindu kepada Penciptanya. Seperti dikatakan oleh Annemarie Schimmel (1975), "Mystical music in Islam does not seek pleasure for itself, but aims to awaken the soul and direct the listener toward God." (hlm. 182). Dalam tarekat Mawlawiyyah,...