Postingan

Menampilkan postingan dengan label Moderasi

Moderasi Beragama dalam Perspektif Ulama Klasik dan Kontemporer

Oleh: Lukmanul Hakim Di tengah arus radikalisasi dan intoleransi yang menguat di berbagai belahan dunia, wacana tentang moderasi beragama ( wasathiyyah ) kembali mengemuka. Namun, tak sedikit yang menganggap konsep ini sebagai wacana baru yang diproduksi oleh negara atau lembaga internasional semata. Padahal, bila menengok khazanah pemikiran Islam, jejak moderasi justru telah menjadi fondasi penting sejak masa klasik. Artikel ini mencoba menelusuri bagaimana wasathiyyah dipahami dan dipraktikkan oleh para ulama klasik, serta bagaimana para ulama kontemporer merevitalisasinya dalam konteks zaman modern. Wasathiyyah dalam Al-Qur'an dan Hadis Istilah wasathiyyah berasal dari kata wasath yang berarti tengah, adil, atau seimbang. Al-Qur'an menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan (QS. Al-Baqarah [2]: 143), yang oleh para mufasir diartikan sebagai umat yang berada di tengah—tidak ekstrem kanan maupun kiri. Nabi Muhammad SAW pun memperingatkan tentang bahaya ghuluw (berl...

Adab Berbeda Pendapat: Merajut Ukhuwah di Tengah Pluralitas

Oleh: Lukmanul Hakim (Pemerhati dan Penulis Budaya, Sosial, dan Isu-isu Keislaman Kontemporer) Indonesia, dengan segala keberagamannya, adalah mozaik indah yang dihuni oleh jutaan jiwa dengan latar belakang, suku, budaya, dan pemahaman yang berbeda-beda. Dalam konteks keislaman, perbedaan pandangan dan mazhab adalah keniscayaan sejarah yang telah ada sejak masa awal. Namun, di era digital yang serba cepat ini, perbedaan pendapat, terutama dalam isu-isu agama, seringkali berubah menjadi medan perpecahan, bahkan permusuhan. Di sinilah adab berbeda pendapat menjadi sangat krusial, bukan hanya untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, tetapi juga untuk merajut tenun kebangsaan di tengah pluralitas. Perbedaan pendapat (ikhtilaf) adalah sunnatullah, sebuah keniscayaan. Bahkan di kalangan para sahabat Nabi SAW, terdapat perbedaan interpretasi dan pandangan tentang berbagai masalah fikih dan muamalah. Imam Asy-Syafi'i, salah satu imam mazhab terbesar, pernah berkata, "Pendapatku benar, tetapi ...

Dari Sejarah ke Arah Baru: Tahun Baru Islam dan Tantangan Peradaban Masa Depan

Oleh: Lukmanul Hakim Tahun Baru Islam, dengan peringatan pergantian kalender Hijriah ke 1447 H, bukan sekadar penanda waktu yang bergeser. Lebih dari itu, ia adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan masa lalu nan agung, sembari menuntun pandangan ke arah masa depan yang penuh tantangan dan potensi. Spirit hijrah—perpindahan dari kemungkaran menuju kebaikan, dari kejumudan menuju kemajuan—yang menjadi fondasi penanggalan Islam, sejatinya merupakan seruan abadi untuk terus berinovasi dan berkontribusi pada kemajuan peradaban. Kita diajak untuk menengok kembali kejayaan Islam di masa lalu sebagai bekal menghadapi kompleksitas peradaban di masa depan. Sejarah peradaban Islam adalah bukti nyata bagaimana nilai-nilai tauhid, ilmu pengetahuan, dan keadilan mampu melahirkan masa keemasan yang mencerahkan dunia. Dari Baghdad hingga Cordoba, para cendekiawan muslim tidak hanya melestarikan ilmu dari peradaban sebelumnya, tetapi juga mengembangkan berbagai disiplin ilmu seperti matematika, ...

Hijrah di Era Digital: Momentum Tahun Baru Islam untuk Perubahan Diri dan Komunitas Online

Oleh: Lukmanul Hakim Tahun Baru Islam, dengan pergantian kalender hijriah ke 1447 H (mengacu pada penanggalan yang umum terjadi pada pertengahan 2025), senantiasa menjadi momen refleksi dan evaluasi diri bagi umat Muslim di seluruh dunia. Spirit hijrah, yang melambangkan perpindahan dari kondisi yang kurang baik menuju yang lebih baik, dari kegelapan menuju cahaya, merupakan esensi utama yang relevan sepanjang masa. Di era digital yang serba cepat ini, makna hijrah menemukan relevansi baru, bukan hanya dalam konteks fisik atau geografis, melainkan juga dalam ranah virtual dan kehidupan daring kita. Ini adalah panggilan untuk bertransformasi dalam cara kita berinteraksi dengan dunia maya, menjadikan setiap klik dan unggahan sebagai bagian dari perjalanan menuju kebaikan. Secara historis, hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah adalah sebuah revolusi sosial, politik, dan spiritual yang membentuk fondasi peradaban Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah ko...

Moderasi Bukan Kompromi, Tapi Komitmen pada Keseimbangan

Oleh: Lukmanul Hakim Istilah moderasi beragama dalam beberapa tahun terakhir sering menjadi bahan diskusi dan perdebatan. Sayangnya, masih banyak yang menyalahpahami istilah ini. Sebagian kalangan mengira bahwa menjadi moderat berarti mencairkan prinsip, menoleransi penyimpangan, atau menyamakan semua agama. Padahal, moderasi dalam Islam bukanlah bentuk kompromi nilai, tetapi komitmen pada prinsip keadilan, proporsionalitas, dan keseimbangan . Wasathiyah: Nilai Asli Islam, Bukan Impor Barat Al-Qur’an menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan (umat pertengahan): “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143) Kata wasath dalam bahasa Arab memiliki makna tengah, adil, dan terbaik. Tafsir al-Thabari menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah umat yang bersikap adil dalam iman, ibadah, dan muamalah. Dalam Fiqh al-Wasathiyah al...