Postingan

Arah Baru BRIN: Transformasi Pola Pikir, Optimalisasi Dampak, dan Ekosistem Riset Nasional

                                                                  Lukmanul Hakim Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional   Pidato Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Apel Pagi 17 November 2025 menyajikan sebuah rancangan institusional yang ambisius. Pidato ini berfokus pada perubahan pola pikir, penguatan kolaborasi, dan optimalisasi dampak luaran riset bagi agenda strategis nasional. Arahan ini bukan sekadar motivasi internal, melainkan penegasan filosofi baru lembaga yang berupaya menyelaraskan cita-cita akademik tertinggi dengan relevansi nyata di tingkat masyarakat. Mengedepankan Nilai dan Spirit Akademik yang Dimuliakan Apresiasi kepada lebih dari 13 ribu sivitas dan 7 ribu peneliti merupakan pengakuan penting terhadap aset utama BRIN. Penekanan pada kolaborasi yang sinergis, setara (e...

Redenominasi Rupiah dan Implikasinya terhadap Praktik Penimbunan Dana Korupsi: Sebuah Analisis Kebijakan

Pendahuluan Wacana redenominasi rupiah kembali mengemuka dalam diskursus kebijakan ekonomi nasional, terutama setelah pemerintah dan otoritas moneter menyampaikan urgensi penyederhanaan pecahan mata uang. Redenominasi dipahami sebagai proses pengurangan digit nol pada nominal rupiah tanpa mengubah nilai riil atau daya belinya, sehingga berfungsi terutama sebagai upaya pembenahan struktur mata uang dan sistem pembayaran (CNN Indonesia, 2025). Di balik tujuan administratif tersebut, kebijakan ini menyimpan implikasi yang lebih luas, termasuk potensi penggunaannya sebagai instrumen strategis dalam pemberantasan korupsi. Artikel ini membahas bagaimana redenominasi dapat menekan praktik penimbunan uang tunai oleh koruptor, serta menelaah dinamika politik dan regulasi yang menyertainya. Tinjauan Literatur dan Kerangka Konseptual Redenominasi secara teoretis berfungsi menyederhanakan pencatatan akuntansi, meningkatkan efisiensi transaksi, dan memperkuat persepsi publik terhadap stabilitas ...

Ijazah Bukan Sekadar Kertas: Semiologi Ilmu, Identitas, dan Kapital Sosial

Oleh: Lukmanul Hakim Mengapa orang tua rela berutang demi biaya kuliah anaknya? Mengapa ijazah sering lebih dihargai ketimbang keterampilan nyata yang dimiliki seseorang?  Pertanyaan ini sering kali muncul dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika kita melihat fenomena di dunia kerja: banyak lowongan yang masih menempatkan ijazah sebagai syarat utama, seolah-olah selembar kertas lebih menentukan nasib seseorang daripada kompetensi yang dimilikinya. Kita hidup di masyarakat yang masih memuja ijazah. Ia dianggap sebagai tiket menuju status sosial, mobilitas ekonomi, bahkan pengakuan kultural. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ijazah bukan hanya kertas bertinta, melainkan sebuah  simbol penuh makna  yang mengandung dimensi semiotika: tanda, makna, dan kuasa. Ijazah sebagai Identitas Akademik Secara sederhana, ijazah adalah dokumen resmi yang menyatakan bahwa seseorang telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Ia menjadi  identitas akademik , semacam stempel ...

Meluruskan Makna Larangan Bepergian Jauh: Bukan untuk Ziarah Kubur, Tapi untuk Ini

Oleh: Tim Penulis NU Online Sebagian kalangan masih memperdebatkan hukum ziarah kubur ke tempat yang jauh. Mereka berdalih, Rasulullah ï·º melarang bepergian jauh kecuali ke tiga masjid utama, yaitu Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, dan Masjid Nabawi. Hadis yang sering dikutip adalah: "Dan jangan mengencangkan pelana (melakukan perjalanan jauh) kecuali untuk mengunjungi tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, dan Masjidku (Masjid Nabawi)." Teks Arabnya: ÙˆَÙ„َا تُØ´َدُّ الرِّØ­َالُ Ø¥ِÙ„َّا Ø¥ِÙ„َÙ‰ Ø«َÙ„َاثَØ©ِ Ù…َسَاجِدَ Ù…َسْجِدِ الْØ­َرَامِ ÙˆَÙ…َسْجِدِ الْØ£َÙ‚ْصَÙ‰ ÙˆَÙ…َسْجِدِÙŠ Ù‡َذَا (HR Bukhari). Apakah benar hadis ini melarang ziarah Wali Songo atau makam-makam para ulama di luar kota? Mari kita telaah lebih dalam makna hadis ini sesuai dengan pandangan para ulama. Tiga Opsi Pemaknaan Hadis Setidaknya, ada tiga cara pemahaman terhadap hadis ini, dan hanya satu yang dianggap sahih oleh mayoritas ulama.  * Larangan Bepergian Jauh secara Umum (Opsi yang Ditolak)    Opsi pertama adalah men...

Urgensi Bersyukur: Menemukan Makna Hidup dalam Perspektif Islam

Oleh: Lukmanul Hakim Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh kompetisi, banyak orang merasa mudah kehilangan makna dan ketenangan. Salah satu kunci yang ditawarkan Islam agar manusia tetap memiliki keseimbangan batin adalah syukur —rasa terima kasih dan pengakuan atas nikmat Allah Swt. Urgensi bersyukur tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kesehatan mental dan sosial. Syukur dalam Al-Qur’an Al-Qur’an berulang kali menekankan pentingnya syukur. Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim [14]: 7). Ayat ini menegaskan bahwa syukur bukan hanya ekspresi batin, tetapi juga menjadi sebab bertambahnya nikmat. Dalam tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an , al-Qurthubi menjelaskan bahwa syukur mencakup tiga aspek: pengakuan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pengama...

Jangan Asal Tafsir! Inilah Syarat Menguasai Al-Qur’an Menurut Para Ulama

Oleh: Lukmanul Hakim Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah SWT sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Ia bukan sekadar bacaan, melainkan pedoman yang harus dipahami, dihayati, dan diamalkan. Namun, memahami dan bahkan menafsirkan Al-Qur’an bukanlah perkara sederhana. Para ulama klasik maupun kontemporer menegaskan adanya syarat-syarat penting sebelum seseorang dapat benar-benar menguasai dan berbicara atas nama Al-Qur’an. Sayangnya, di era media sosial saat ini, fenomena “asal tafsir” kerap muncul. Ada orang yang hanya bermodal terjemahan lalu berani menafsirkan ayat sesuai logika pribadinya. Hal ini bukan saja menyesatkan diri sendiri, tetapi juga bisa menyesatkan umat. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk kembali mengingat pesan para ulama tentang syarat menguasai Al-Qur’an. 1. Menguasai Ilmu Bahasa Arab Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang sangat fasih. Karena itu, memahami ilmu nahwu (tata bahasa), sharaf (perubahan kata), balaghah (keindahan ba...

Khatmul Aulia: Antara Mitos, Konsep Tasawuf, dan Batas Ortodoksi Islam

Oleh: Lukmanul Hakim Dalam khazanah Islam, istilah khatm (penutup) melekat kuat pada Nabi Muhammad SAW sebagai khataman nabiyyin (penutup para nabi). Hal ini ditegaskan secara jelas dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ahzab: 40) dan menjadi konsensus ulama bahwa tidak ada lagi nabi setelah beliau. Namun, berbeda dengan konsep kenabian, sebagian tokoh sufi memperkenalkan istilah khatmul aulia atau penutup para wali. Konsep ini tidak memiliki dasar langsung dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih, tetapi berkembang sebagai spekulasi metafisis dalam tradisi tasawuf. Secara etimologis, khatmul aulia berarti wali pamungkas atau penutup kewalian. Sebagian sufi berargumen bahwa sebagaimana kenabian ditutup oleh Nabi Muhammad, maka kewalian juga memiliki figur penutup. Ibn ‘Arabi (w. 1240 M), salah satu tokoh besar sufi, melalui Futuhat al-Makkiyyah dan Fusus al-Hikam , menegaskan bahwa khatmul auliya adalah figur yang menyempurnakan maqam kewalian, meskipun bukan berarti menutup eksistensi wali secara...

Maulid Nabi Muhammad SAW: Refleksi Kehidupan Rasul dalam Membentuk Karakter Umat

Oleh: Lukmanul Hakim Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain sebagai perayaan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, acara ini memiliki makna yang jauh lebih dalam, yaitu sebagai ajang refleksi untuk meneladani kehidupan Rasulullah dalam membentuk karakter umat. Maulid Nabi bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi sebuah kesempatan untuk mengevaluasi diri dan menghidupkan kembali ajaran-ajaran Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini akan menggali lebih dalam bagaimana Maulid Nabi dapat menjadi momen refleksi untuk membentuk karakter umat Islam yang lebih baik, serta menghidupkan nilai-nilai moral dan spiritual yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW sebagai Teladan Utama Nabi Muhammad SAW adalah contoh sempurna bagi umat manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, “Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu” (QS. Al-Ahzab: 21). Setiap aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW, dar...

Mengupas Tuntas Faham Jabariyah, Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan Maturidiyah dalam Teologi Islam

Oleh: Lukmanul Hakim Teologi Islam menawarkan berbagai pandangan mengenai hubungan antara kehendak Allah dan kehendak manusia. Beberapa aliran besar dalam teologi Islam, seperti Jabariyah , Mu'tazilah , Asy'ariyah , dan Maturidiyah , memiliki perspektif yang berbeda dalam menjelaskan konsep kebebasan manusia, takdir, dan tanggung jawab moral. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai keempat faham tersebut, dengan merujuk pada berbagai referensi yang relevan untuk memahami perbedaan dan persamaan di antara mereka. 1. Faham Jabariyah: Determinisme Absolut Faham Jabariyah adalah aliran yang paling dikenal dengan pandangannya yang deterministik. Aliran ini mengajarkan bahwa segala perbuatan manusia sudah ditentukan oleh Allah sejak zaman azali. Dalam pandangan Jabariyah, manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih atau bertindak secara independen karena segala sesuatu sudah digariskan oleh takdir yang mutlak. Pandangan Tentang Takdir dan Kebebasan: Takdir : Jab...

Penyebab Ajaran-Ajaran Sempalan Diikuti: Perspektif Sosial dan Psikologis

Oleh: Lukmanul Hakim Dalam konteks agama, ideologi, dan kepercayaan, ajaran-ajaran sempalan merujuk pada aliran-aliran yang menyimpang dari ajaran utama yang diterima oleh mayoritas. Ajaran-ajaran ini seringkali menawarkan solusi atau perspektif yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan atau keinginan individu, meskipun sering kali melenceng dari nilai-nilai yang telah mapan. Fenomena ajaran sempalan yang diikuti oleh sebagian orang menunjukkan dinamika sosial dan psikologis yang kompleks. Artikel ini akan mengulas penyebab-penyebab mengapa ajaran-ajaran sempalan bisa menarik perhatian dan diikuti, serta dampak dari kepercayaan terhadap ajaran tersebut. 1. Krisis Sosial dan Ekonomi Ketika sebuah masyarakat mengalami ketidakstabilan ekonomi atau sosial, banyak individu merasa kehilangan arah. Krisis ini bisa berupa kemiskinan, pengangguran, atau ketidakpastian politik yang menciptakan ketegangan psikologis. Dalam kondisi tersebut, ajaran sempalan seringkali menawarkan penjelasan ya...