Ironi Sampah Pinggir Jalan: Menggugat Peradaban, Kesehatan, dan "Iman" Kolektif Kita
Ada satu diktum teologis yang begitu lekat di telinga masyarakat Sasak sejak masa kanak-kanak: “An-nazhafatu minal iman”—kebersihan adalah bagian dari iman. Sebagai pulau yang membingkai identitasnya lewat narasi religiusitas yang kental seperti julukan "Pulau Seribu Masjid" hingga destinasi "Wisata Halal", doktrin suci tersebut seharusnya mewujud menjadi pola perilaku publik yang distingtif. Perilaku yang menempatkan kebersihan lingkungan setara dengan kesucian ibadah ritual. Namun, ketika kita menyusuri jalur-jalur transportasi utama antarkabupaten di Pulau Lombok, realitas empiris justru memamerkan kontradiksi yang menyakitkan. Jargon keimanan yang agung itu seolah menguap di udara, terkalahkan oleh pemandangan egois berupa tumpukan sampah liar yang berjejer di sepanjang urat nadi jalan raya. Jika kita jeli mengamati potret lapangan, kegagalan tata kelola sampah dan krisis moralitas publik langsung terpampang nyata tanpa sekat. Di Kabupaten Lombok Tengah, misalny...