Mengupas Tuntas Faham Jabariyah, Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan Maturidiyah dalam Teologi Islam
Oleh: Lukmanul Hakim
Teologi Islam menawarkan berbagai pandangan mengenai hubungan antara kehendak Allah dan kehendak manusia. Beberapa aliran besar dalam teologi Islam, seperti Jabariyah, Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan Maturidiyah, memiliki perspektif yang berbeda dalam menjelaskan konsep kebebasan manusia, takdir, dan tanggung jawab moral. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai keempat faham tersebut, dengan merujuk pada berbagai referensi yang relevan untuk memahami perbedaan dan persamaan di antara mereka.
1. Faham Jabariyah: Determinisme Absolut
Faham Jabariyah adalah aliran yang paling dikenal dengan pandangannya yang deterministik. Aliran ini mengajarkan bahwa segala perbuatan manusia sudah ditentukan oleh Allah sejak zaman azali. Dalam pandangan Jabariyah, manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih atau bertindak secara independen karena segala sesuatu sudah digariskan oleh takdir yang mutlak.
Pandangan Tentang Takdir dan Kebebasan:
-
Takdir: Jabariyah meyakini bahwa takdir Allah adalah mutlak dan tidak dapat diubah. Segala kejadian di dunia, baik yang baik maupun buruk, sudah ditentukan oleh Allah (Al-Ash'ari, 2002).
-
Kebebasan: Manusia tidak memiliki kebebasan atau kehendak bebas dalam menentukan tindakan mereka. Mereka hanya "dipaksa" mengikuti takdir Allah.
-
Tanggung Jawab Moral: Karena perbuatan manusia dianggap sudah ditentukan oleh Allah, Jabariyah menganggap bahwa manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Semua tindakan mereka adalah bagian dari takdir yang sudah digariskan.
Kritik Terhadap Jabariyah:
Faham Jabariyah seringkali dikritik karena dianggap menafikan tanggung jawab moral manusia. Jika segala perbuatan sudah ditentukan, maka tidak ada ruang bagi manusia untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka, yang bisa berujung pada penyalahgunaan ajaran ini (Al-Ghazali, 2005).
2. Faham Mu'tazilah: Kebebasan Manusia dalam Pilihan
Mu'tazilah adalah aliran yang menekankan kebebasan manusia dalam memilih dan bertindak. Dalam pandangan Mu'tazilah, manusia diberi kebebasan untuk menentukan tindakannya, dan takdir Allah tidak memaksa manusia untuk bertindak secara tertentu. Aliran ini lebih menekankan pada prinsip keadilan dan rasionalitas, serta menganggap bahwa Tuhan tidak akan menzalimi hambanya.
Pandangan Tentang Takdir dan Kebebasan:
-
Takdir: Mu'tazilah mengajarkan bahwa meskipun Allah mengetahui segala sesuatu, manusia memiliki kebebasan untuk memilih perbuatan mereka. Takdir bukanlah determinisme mutlak, tetapi lebih kepada pengetahuan Allah yang luas dan tidak terbatas (Baqir, 1999).
-
Kebebasan: Manusia memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Mereka dianggap sebagai makhluk yang memiliki kemampuan untuk memilih dan berbuat baik atau buruk.
-
Tanggung Jawab Moral: Mu'tazilah menekankan pentingnya tanggung jawab moral manusia, karena mereka memiliki kebebasan untuk bertindak sesuai dengan kehendak mereka.
Kritik Terhadap Mu'tazilah:
Mu'tazilah sering dikritik karena pandangannya yang berlebihan tentang kebebasan manusia, yang dapat menyebabkan manusia menganggap diri mereka sebagai entitas yang sepenuhnya independen dari kehendak Tuhan. Ini dapat berujung pada pandangan yang mengabaikan unsur takdir dan kekuasaan Allah yang mutlak (Stark & Bainbridge, 1996).
3. Faham Asy'ariyah: Kasb (Usaha) dan Takdir
Asy'ariyah adalah salah satu aliran teologi yang sangat berpengaruh dalam dunia Islam. Aliran ini mencoba untuk mengakomodasi pandangan tentang kebebasan manusia dengan pengakuan terhadap takdir Allah. Menurut Asy'ariyah, manusia memiliki kebebasan untuk berusaha dan memilih, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Allah. Konsep ini dikenal dengan istilah kasb, yaitu usaha manusia untuk memilih suatu perbuatan, yang kemudian dikaruniakan oleh Allah.
Pandangan Tentang Takdir dan Kebebasan:
-
Takdir: Allah memiliki pengetahuan yang tak terbatas tentang segala sesuatu, dan segala sesuatu yang terjadi sudah berada dalam kehendak dan takdir-Nya. Namun, takdir ini tidak menghilangkan kebebasan manusia dalam usaha dan pilihan mereka (Asy'ari, 2001).
-
Kebebasan: Manusia memiliki kebebasan terbatas dalam memilih tindakan, tetapi segala keputusan dan tindakan mereka berada dalam kerangka takdir yang lebih besar. Allah memberikan kekuatan dan kemampuan kepada manusia untuk melakukan tindakan, namun manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan mereka.
-
Tanggung Jawab Moral: Manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan mereka, meskipun semua tindakan mereka berada dalam kerangka takdir Allah. Asy'ariyah mengajarkan bahwa Allah memberi manusia kebebasan untuk berusaha, dan mereka akan diberi pahala atau dosa sesuai dengan usaha mereka.
Kritik Terhadap Asy'ariyah:
Asy'ariyah sering dipandang sebagai aliran yang tengah-tengah antara determinisme dan kebebasan manusia, namun beberapa kritikus berpendapat bahwa konsep kasb ini bisa membingungkan karena tampaknya berusaha mengakomodasi kedua pandangan yang sangat berbeda (takdir mutlak dan kebebasan manusia) tanpa memberikan penjelasan yang jelas (Al-Ghazali, 2005).
4. Faham Maturidiyah: Kebebasan dengan Akal Sehat
Maturidiyah adalah aliran teologi yang mirip dengan Asy'ariyah dalam banyak aspek, namun dengan beberapa penekanan berbeda. Maturidiyah mengakui takdir Allah yang mutlak, namun mereka juga memberikan ruang bagi kebebasan manusia dalam memilih dengan menggunakan akal sehatnya. Aliran ini menekankan bahwa akal manusia adalah alat yang diberikan oleh Allah untuk membedakan antara yang baik dan buruk.
Pandangan Tentang Takdir dan Kebebasan:
-
Takdir: Maturidiyah mengakui takdir sebagai bagian dari pengetahuan Allah yang tidak terbatas, dan segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah. Namun, manusia diberikan kebebasan dalam memilih tindakan mereka (Al-Maturidi, 2006).
-
Kebebasan: Manusia memiliki kebebasan dalam memilih, dan akal sehat adalah alat yang digunakan untuk membuat keputusan yang benar. Maturidiyah mengajarkan bahwa akal adalah bagian penting dalam menentukan perbuatan manusia.
-
Tanggung Jawab Moral: Manusia bertanggung jawab atas tindakan mereka, dan akal merupakan sarana yang digunakan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk. Tanggung jawab moral tetap ada meskipun Allah mengetahui segala sesuatu sebelumnya.
Kritik Terhadap Maturidiyah:
Kritik terhadap Maturidiyah lebih kepada bagaimana mereka menekankan pentingnya akal dalam menentukan kebebasan manusia, yang bisa mengarah pada penilaian yang lebih rasional daripada spiritual dalam memahami takdir dan kebebasan (Baqir, 1999).
Simpulan
Keempat aliran teologi ini, Jabariyah, Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan Maturidiyah, memiliki pandangan yang berbeda tentang hubungan antara takdir dan kebebasan manusia. Jabariyah mengajarkan determinisme mutlak, sementara Mu'tazilah menekankan kebebasan manusia yang penuh. Asy'ariyah berusaha menjembatani keduanya melalui konsep kasb, sedangkan Maturidiyah lebih menekankan pada penggunaan akal sehat dalam memilih perbuatan yang baik dan buruk, sembari tetap mengakui takdir Allah.
Setiap aliran ini memiliki kontribusi penting dalam pemahaman teologi Islam, dan meskipun ada perbedaan mendasar dalam pandangan mereka, mereka semua berusaha untuk memberikan penjelasan yang masuk akal mengenai kebebasan, takdir, dan tanggung jawab manusia dalam konteks keimanan kepada Allah.
Referensi:
-
Al-Ash'ari, A. (2002). Al-Ibanah An Usul al-Diyanah. Dar al-Fikr.
-
Al-Ghazali, A. (2005). Al-Munqidh min al-Dalal. Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
-
Baqir, S. (1999). Mu'tazilite Theology and Its Impact on Islamic Thought. Islamic Studies Journal, 23(2).
-
Asy'ari, A. (2001). Al-Luma' Dar al-Fikr.
-
Al-Maturidi, A. (2006). Kitab al-Tawhid. Dar al-Ma'arif.
-
Stark, R., & Bainbridge, W. S. (1996). The Future of Religion: Secularization, Revival and Cult Formation. University of California Press.
Komentar
Posting Komentar