Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Masjid Bukan Sekadar Tempat Salat: Menghidupkan Ruh Peradaban Islam

Oleh: Lukmanul Hakim "Dan sesungguhnya rumah yang pertama kali dibangun untuk (tempat ibadah) manusia ialah Baitullah yang berada di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam." (QS. Āli ‘Imrān [3]: 96) Ayat ini mengisyaratkan bahwa tempat ibadah—khususnya masjid—memiliki akar peradaban sejak zaman Nabi Ibrahim. Ia bukan hanya tempat ritual, tetapi juga titik mula peradaban spiritual dan sosial umat manusia. Konsep ini dilanjutkan dalam tradisi kenabian Muhammad ﷺ, yang menjadikan masjid sebagai pusat pengelolaan masyarakat Madinah. Masjid dalam Tradisi Kenabian Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, tindakan pertama beliau adalah membangun masjid. Masjid Nabawi bukan hanya tempat salat, tetapi juga: Pusat pendidikan: P ara sahabat belajar Al-Qur'an, akhlak, dan ilmu-ilmu dasar Islam. Tercatat adanya Ahl al-Shuffah , sekelompok sahabat yang tinggal dan belajar di masjid langsung dari Rasulullah (lihat: Siyar A‘lām al-Nubalā’ karya al-Dza...

Mall Ramai, Tapi yang Belanja Rojali dan Rohana: Fenomena Konsumsi Gaya Baru

  Oleh: Lukmanul Hakim Ketika akhir pekan tiba, parkiran mall-mall besar di kota-kota Indonesia dipenuhi kendaraan. Di dalam, suasana lebih mirip festival daripada pusat belanja—ramai, penuh tawa, dan spot-spot foto yang tak pernah sepi. Tapi anehnya, sebagian besar toko justru sepi transaksi. Fenomena ini lalu melahirkan istilah jenaka: Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya). Ungkapan ini bukan hanya lucu, tapi juga menyimpan refleksi sosial yang dalam. Mall hari ini telah bergeser fungsi. Ia bukan lagi sekadar tempat belanja, melainkan telah menjadi ruang publik baru —tempat orang datang untuk “healing”, bertemu teman, menghibur anak, atau sekadar menikmati udara sejuk dari pendingin ruangan. Di tengah minimnya taman kota yang layak dan ruang terbuka yang nyaman, mall menjadi destinasi yang terasa gratis, aman, dan tentu saja, instagramable. Konsumen masa kini juga semakin kritis dan rasional . Mereka datang ke mall untuk melihat-lihat, membandingk...

Bahasa Manusia dan Komunikasi Binatang: Menjaga Batas Konseptual Ilmiah

Oleh: Lukmanul Hakim Di antara banyak keistimewaan manusia dibanding makhluk lain di bumi ini, kemampuan berbahasa menjadi salah satu yang paling menentukan peradaban. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat berpikir, membangun makna, dan mentransmisikan budaya secara lintas generasi. Namun, apakah makhluk lain, seperti binatang, juga memiliki "bahasa"? Pertanyaan ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, bahkan dalam ruang-ruang akademik. Kita kerap menyaksikan hewan—terutama yang hidup dekat manusia seperti kucing, anjing, atau burung—mengeluarkan suara dengan intonasi berbeda bergantung pada situasi. Mereka tampaknya "menyapa", "meminta", bahkan "marah". Lalu muncul pertanyaan: bukankah itu juga bentuk bahasa? Untuk menjawabnya, kita perlu membedakan antara komunikasi dan bahasa dalam pengertian ilmiah. Bahasa: Simbolik, Produktif, dan Khas Manusia Bahasa bukan hanya sekumpulan bunyi. Ia adalah sistem simbol arbitrer...

Menggugat "Fungsi Hakiki Bahasa": Antara Gagasan Filosofis dan Kenyataan Ilmiah

Oleh: Lukmanul Hakim Dalam sebuah diskusi menarik, seorang penulis menyampaikan gagasan bahwa fungsi hakiki bahasa adalah sebagai alat pengembangan akal budi dan pemelihara kerja sama , dan bukan semata alat komunikasi. Gagasan ini disampaikan secara puitik dan penuh idealisme: bahwa ketika bahasa digunakan untuk nyinyir, menista, dan menyebar energi negatif, ia telah keluar dari fungsi hakikinya. Bahkan, kualitas budaya suatu bangsa dikaitkan langsung dengan sejauh mana bangsa tersebut memfungsikan bahasa sebagai alat kemanusiaan. Ukuran konkret yang diajukan pun menarik: bangsa yang mampu meraih Hadiah Nobel dianggap telah mengoptimalkan fungsi hakiki bahasa. Meskipun ide ini patut diapresiasi sebagai bagian dari refleksi filosofis atas peran bahasa dalam kehidupan manusia, ada sejumlah catatan kritis yang perlu dikemukakan, terutama dari sudut pandang linguistik ilmiah . Tulisan ini mencoba menempatkan gagasan tersebut dalam konteks disiplin linguistik, sekaligus memberi ruang b...

Al-Qur’an Tak Pernah Disunting: Menelusuri Keaslian Wahyu dan Tantangan yang Tak Terbantahkan

Oleh: Lukmanul Hakim Di tengah derasnya hoaks dan revisi informasi, Al-Qur’an hadir sebagai satu-satunya teks keagamaan yang tak pernah disunting sejak diturunkan lebih dari 14 abad yang lalu . Kitab ini tetap otentik, lafalnya terjaga, dan isinya utuh sebagaimana yang diterima oleh Nabi Muhammad ﷺ dari Jibril ‘alaihis-salām. Pernyataan keaslian ini bukanlah sekadar dogma keimanan, melainkan dapat diverifikasi melalui sejarah, manuskrip kuno, dan metode transmisi ilmiah yang tak tertandingi. Bahkan, para sarjana Barat yang skeptis pun gagal membuktikan adanya perubahan atau redaksi dalam teks Al-Qur’an. 📖 Janji Ilahi tentang Penjagaan Al-Qur’an Allah menegaskan dalam Al-Qur’an: ﴿ إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴾ "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya." (QS. Al-Ḥijr: 9) Ayat ini menjadi jaminan ilahiah bahwa wahyu Al-Qur’an akan selalu terjaga—baik lafaz maupun maknany...

Melatih Otak dan Nurani: Kurikulum Pembelajaran Mendalam sebagai Fondasi Pendidikan Holistik

Oleh: Lukmanul Hakim Di era global yang bergerak cepat dan sarat dengan disrupsi teknologi, dunia pendidikan menghadapi tantangan mendasar: bagaimana membentuk manusia seutuhnya, bukan sekadar mesin penghafal fakta. Sudah terlalu lama pendidikan di banyak sekolah hanya menekankan aspek kognitif—angka, rumus, dan hafalan. Padahal, manusia tidak hanya berpikir, tetapi juga merasa dan bertindak. Dalam konteks inilah muncul gagasan besar tentang kurikulum pembelajaran mendalam (deep learning curriculum) —sebuah pendekatan yang tidak hanya melatih otak, tetapi juga membentuk nurani dan membimbing aksi nyata. Pendidikan semacam ini berpijak pada prinsip pendidikan holistik , yaitu pendidikan yang menyentuh akal, hati, dan perilaku sekaligus. Masalah Kita: Sekolah Cerdas tapi Gagal Mendidik Sekilas, pendidikan kita tampak sibuk: siswa dijejali tugas, target kurikulum dikejar dengan keras, dan ujian menjadi penentu segalanya. Tapi mengapa krisis karakter tetap terjadi? Mengapa kekerasan...

Mengintegrasikan Nilai, Kognisi, dan Aksi: Fondasi Kurikulum Pembelajaran Mendalam

Mengintegrasikan Nilai, Kognisi, dan Aksi: Fondasi Kurikulum Pembelajaran Mendalam Oleh: Lukmanul Hakim Pendidikan , pada hakikatnya, bukan semata-mata proses transfer ilmu, melainkan ikhtiar memanusiakan manusia. Dalam kerangka inilah, penting bagi kita untuk meninjau ulang cara kita menyusun dan menjalankan kurikulum di sekolah-sekolah kita. Seiring dengan kompleksitas zaman dan tantangan moral di tengah masyarakat modern, pendekatan pembelajaran yang dangkal sudah tidak memadai. Kini saatnya menapaki arah baru: kurikulum pembelajaran mendalam —yang menempatkan nilai, kognisi, dan aksi sebagai satu kesatuan integral. Belajar Tak Cukup Hanya Mengingat Selama bertahun-tahun, sistem pendidikan kita lebih menekankan pada penguasaan materi dan kemampuan menghafal. Indikator keberhasilan pun kerap ditentukan oleh angka-angka dalam rapor dan hasil ujian. Padahal, realitas kehidupan menuntut lebih dari sekadar kemampuan kognitif. Kita butuh manusia yang tidak hanya cerdas secara intelek...

Mukjizat Al-Qur’an dalam Dunia Medis: Dari Janin, Darah, hingga Air Susu Ibu

Oleh: Lukmanul Hakim Ketika sains medis modern menjelajahi kompleksitas tubuh manusia dengan alat dan laboratorium canggih, Al-Qur’an sejak 14 abad silam telah memberikan isyarat-ilahiah yang mencengangkan. Bukan sebagai buku anatomi, melainkan sebagai wahyu ilahi yang mencerminkan mukjizat pengetahuan jauh sebelum manusia mampu membuktikannya secara ilmiah. Kini, dengan berkembangnya embriologi, hematologi, dan nutrisi neonatal, dunia medis justru menguatkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab spiritual, tapi juga memuat kebenaran biologis yang luar biasa presisi . 1. Proses Penciptaan Janin: Urutan yang Mustahil Ditebak Manusia Zaman Nabi Embriologi modern mengungkap bahwa janin manusia berkembang melalui tahapan yang terstruktur — mulai dari sperma, zigot, embrio, fetus, hingga kelahiran. Tahapan-tahapan ini secara mengejutkan tercermin dalam Al-Qur’an: ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ ل...

Ketika Sains Mengejar Al-Qur’an: Mukjizat Kosmologi dalam Ayat Suci

Oleh: Lukmanul Hakim Lebih dari seribu tahun sebelum teleskop pertama ditemukan, Al-Qur’an telah menyuguhkan isyarat-isyarat kosmis yang memukau. Ia bukan buku astronomi, tapi petunjuk ilahiah yang justru mengandung deskripsi-deskripsi kosmologis yang sangat relevan dengan penemuan sains modern. Di tengah kemajuan teknologi luar angkasa dan eksplorasi semesta, muncul pertanyaan penting: apakah sains sedang mengejar kebenaran yang lebih dulu dinyatakan dalam Al-Qur’an? Langit yang Terus Mengembang Pada tahun 1929, Edwin Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi menjauh satu sama lain, menandakan bahwa alam semesta terus mengembang . Teori ini menjadi dasar Big Bang Theory yang kini diterima luas oleh para kosmolog. Namun, jauh sebelum itu, Al-Qur’an telah mengungkapkan: وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. Az-Zariyat: 47) Kata "لَمُوسِعُونَ" (...

Bahasa Langit untuk Manusia: Menggali Mukjizat Linguistik Al-Qur’an

Oleh: Lukmanul Hakim Al-Qur’an bukan hanya kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat Islam, tetapi juga mukjizat yang terus hidup dari masa ke masa. Salah satu bentuk kemukjizatannya yang paling menonjol adalah pada bahasanya — sebuah bahasa yang tidak hanya indah, tetapi juga menggugah, padat makna, dan tidak tertandingi. Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab kepada masyarakat Arab yang pada masa itu sangat menjunjung tinggi sastra dan kefasihan bahasa. Namun ironisnya, para penyair dan ahli balaghah Arab justru tak mampu menandingi satu surat pun darinya. Itulah yang ditegaskan dalam firman Allah: قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ "Katakanlah: Maka datangkanlah satu surah semisal Al-Qur’an ini." (QS. Yunus: 38) 1. Keunikan Struktural: Bukan Prosa, Bukan Puisi Bahasa Al-Qur’an tidak bisa dikategorikan sebagai puisi (الشعر) maupun prosa biasa (النثر). Ia berada di antara keduanya namun memiliki keunikan tersendiri. Ayat-ayatnya kadang pendek, berima, namun tidak t...

Perbedaan Masjid dan Mushalla: Telaah Fikih Berdasarkan Dalil dan Pendapat Ulama

Oleh: Lukmanul Hakim Dalam kehidupan umat Islam, tempat ibadah memiliki kedudukan yang penting, baik secara spiritual maupun sosial. Dua istilah yang sering digunakan adalah masjid dan mushalla . Meski keduanya berfungsi sebagai tempat shalat, keduanya tidak bisa disamakan begitu saja dalam syariat Islam. Perbedaan antara masjid dan mushalla bukan hanya bersifat struktural, tetapi juga memiliki implikasi hukum fikih yang cukup signifikan. 1. Definisi Masjid dan Mushalla Secara bahasa, masjid (مَسْجِد) berasal dari kata sajada yang berarti sujud. Secara istilah syar’i, masjid adalah tempat yang dibangun dan diniatkan serta diwakafkan secara permanen untuk pelaksanaan ibadah, terutama shalat lima waktu, dan memiliki status hukum tersendiri dalam Islam. Imam Nawawi menjelaskan bahwa masjid adalah "segala tempat yang diwakafkan secara sah untuk ibadah, dan berlaku padanya hukum-hukum khusus masjid." Adapun mushalla (مُصَلّى), secara bahasa berarti "tempat shalat....

Moderasi Beragama dalam Perspektif Ulama Klasik dan Kontemporer

Oleh: Lukmanul Hakim Di tengah arus radikalisasi dan intoleransi yang menguat di berbagai belahan dunia, wacana tentang moderasi beragama ( wasathiyyah ) kembali mengemuka. Namun, tak sedikit yang menganggap konsep ini sebagai wacana baru yang diproduksi oleh negara atau lembaga internasional semata. Padahal, bila menengok khazanah pemikiran Islam, jejak moderasi justru telah menjadi fondasi penting sejak masa klasik. Artikel ini mencoba menelusuri bagaimana wasathiyyah dipahami dan dipraktikkan oleh para ulama klasik, serta bagaimana para ulama kontemporer merevitalisasinya dalam konteks zaman modern. Wasathiyyah dalam Al-Qur'an dan Hadis Istilah wasathiyyah berasal dari kata wasath yang berarti tengah, adil, atau seimbang. Al-Qur'an menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan (QS. Al-Baqarah [2]: 143), yang oleh para mufasir diartikan sebagai umat yang berada di tengah—tidak ekstrem kanan maupun kiri. Nabi Muhammad SAW pun memperingatkan tentang bahaya ghuluw (berl...

Paulus, Yesus, dan Otoritas Injil: Menjawab Apologetisme secara Kritis dan Seimbang

Oleh: Lukmanul Hakim Pendahuluan Postingan yang dibagikan oleh Kornelius Ginting berjudul “Jika Paulus dianggap Tuhan Kristen, maka logika dan iman Anda sedang kritis—karena Anda sedang menyembah tafsiran, bukan kebenaran” mencoba menanggapi kritik terhadap dominasi ajaran Paulus dalam doktrin Kristen. Ia menegaskan bahwa Paulus hanyalah “juru bicara” yang membela Injil Kristus, bukan pusat iman itu sendiri. Secara umum, argumentasi tersebut valid dalam kerangka iman Kristen arus utama. Namun, untuk menjawabnya secara adil dan tidak bias, perlu ditelaah dari tiga sudut pandang: (1) sejarah perkembangan kekristenan , (2) posisi Paulus dalam penyusunan teologi Perjanjian Baru , dan (3) tanggapan terhadap tuduhan 'menuhankan Paulus'. 1. Paulus dan Yesus dalam Sejarah Kekristenan Awal Paulus memang bukan pendiri agama Kristen, tetapi ia memainkan peran paling dominan dalam pembentukan teologi Kristen pasca-Yahudi. Sementara Yesus tidak menulis apa-apa, Paulus menulis 13 dari ...

Bencana Adalah Ujian, Tapi Ketimpangan Adalah Pilihan: Krisis Sosial di Tengah Bencana Alam

Oleh: Lukmanul Hakim Bencana alam memang tak bisa kita tolak, tetapi dampak yang ditimbulkannya sering kali memperlihatkan satu kenyataan pahit: yang paling menderita adalah mereka yang paling miskin, paling lemah, dan paling terpinggirkan. Maka dari itu, ketika alam mengamuk, pertanyaannya bukan hanya “seberapa besar kerusakan yang terjadi?” melainkan “siapa yang paling kehilangan?” Bencana adalah ujian dari Tuhan. Namun, ketimpangan yang membuat sebagian orang jauh lebih rentan dari yang lain adalah hasil dari keputusan kolektif: pilihan kebijakan, pilihan pembangunan, dan pilihan untuk abai terhadap keadilan sosial. Ketika Alam Menggugat: Siapa yang Paling Terluka? Setiap bencana, dari gempa bumi hingga banjir dan longsor, memiliki kecenderungan memperparah struktur ketimpangan sosial yang sudah ada. Mereka yang tinggal di lereng gunung, bantaran sungai, atau rumah tidak layak huni adalah pihak pertama yang terkena dampaknya. Dalam laporan UNDP Indonesia (2023) , disebutkan ba...

Rukyat, Hisab, dan KHGT: Menyatukan Dua Kutub yang Lama Berseberangan

Oleh: Lukmanul Hakim Setiap kali Ramadhan dan dua hari raya Islam tiba, umat Muslim di seluruh dunia kembali menghadapi fenomena yang tak asing: berbedanya penetapan awal bulan hijriah . Ada yang telah berpuasa, sementara lainnya masih menikmati santapan sahur terakhir. Perbedaan ini seringkali bukan hanya bersifat geografis, tetapi mencerminkan perbedaan metodologi penanggalan : antara rukyat (pengamatan hilal secara langsung) dan hisab (perhitungan astronomis). Di tengah polemik tersebut, gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) hadir untuk menjembatani dua kutub yang selama ini dipertentangkan. Rukyat vs. Hisab: Sejarah Perbedaan Pendekatan Perdebatan antara rukyat dan hisab sudah berlangsung sejak era klasik. Dalam hadis Nabi SAW disebutkan: "Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya..." (HR. Bukhari dan Muslim). Dari sinilah muncul praktik rukyat: mencari hilal secara langsung di ufuk barat setelah matahari terbenam pada akhir...

KHGT dan Hisab Global: Saat Ilmu Langit Menyatukan Bumi

Oleh: Lukmanul Hakim Setiap tahun, umat Islam di berbagai penjuru dunia menghadapi kenyataan yang berulang: perbedaan penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Fenomena ini bukan sekadar persoalan teknis keagamaan, tetapi telah menjadi simbol betapa dunia Islam masih kesulitan menyatukan kalender keagamaannya. Di tengah kerinduan akan persatuan umat, muncul inisiatif bernama Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menawarkan jalan keluar melalui pendekatan ilmiah dan global: Hisab Global . KHGT: Gagasan Lama yang Menemukan Relevansi Baru Ide KHGT bukanlah barang baru. Sejak lama para ilmuwan falak dan ulama kontemporer telah menyuarakan pentingnya kalender hijriah yang bersifat global, bukan regional. KHGT bertujuan menyatukan penanggalan hijriah di seluruh dunia Islam, sehingga umat Islam bisa memulai dan mengakhiri bulan-bulan ibadah secara serentak, tanpa perbedaan yang mencolok antarnegara. Gagasan ini mendapatkan dorongan kuat dari resolusi Majma’ al-Fiqh al-Isl...

Anak Allah atau Hamba Allah? Membongkar Makna Teologis dalam Injil dan Al-Qur’an

Oleh: Lukmanul Hakim Istilah “Anak Allah” yang disandangkan kepada Yesus (Isa Al-Masih) telah menjadi pusat perdebatan teologis yang paling krusial antara umat Kristen dan umat Islam. Bagi mayoritas Kristen, sebutan ini mengandung makna ilahi: bahwa Yesus adalah pribadi kedua dari Tritunggal, Tuhan yang menjelma dalam rupa manusia. Sebaliknya, dalam Islam, Isa adalah hamba Allah (‘abdullah) dan utusan-Nya (rasul) , bukan Tuhan dan bukan pula anak biologis Tuhan. Namun, apakah istilah "Anak Allah" dalam Injil benar-benar bermakna literal dan ilahi? Atau justru simbolik, metaforis, dan konteksual sesuai budaya Semitik kala itu? Artikel ini akan menelusuri makna teologisnya dalam terang kitab suci dan sejarah. Makna "Anak Allah" dalam Konteks Yahudi Dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama), istilah “anak Allah” tidak eksklusif ditujukan kepada Yesus . Frasa ini kerap digunakan untuk menyebut: Bangsa Israel: “Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesi...