Urgensi Bersyukur: Menemukan Makna Hidup dalam Perspektif Islam

Oleh: Lukmanul Hakim

Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh kompetisi, banyak orang merasa mudah kehilangan makna dan ketenangan. Salah satu kunci yang ditawarkan Islam agar manusia tetap memiliki keseimbangan batin adalah syukur—rasa terima kasih dan pengakuan atas nikmat Allah Swt. Urgensi bersyukur tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kesehatan mental dan sosial.

Syukur dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an berulang kali menekankan pentingnya syukur. Allah Swt. berfirman:

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim [14]: 7).

Ayat ini menegaskan bahwa syukur bukan hanya ekspresi batin, tetapi juga menjadi sebab bertambahnya nikmat. Dalam tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, al-Qurthubi menjelaskan bahwa syukur mencakup tiga aspek: pengakuan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan melalui perbuatan (al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz 9, hlm. 305).

Syukur dalam Hadis Nabi

Rasulullah Saw. adalah teladan utama dalam bersyukur. Dalam sebuah hadis sahih, diceritakan bahwa beliau berdiri salat malam hingga kedua kakinya bengkak. Ketika Aisyah RA bertanya mengapa beliau melakukan hal itu padahal sudah diampuni dosanya, beliau menjawab:

“Wahai Aisyah, apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah,” tetapi juga perwujudan nyata dalam ibadah dan amal saleh.

Pandangan Ulama tentang Urgensi Syukur

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menempatkan syukur sebagai salah satu maqam (tingkatan spiritual) penting setelah sabar. Menurutnya, syukur adalah “menggunakan nikmat Allah pada jalan yang diridai-Nya.” Dengan demikian, syukur sejati tidak berhenti pada rasa puas, melainkan melahirkan amal nyata yang membawa manfaat bagi sesama (al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz 4, hlm. 84).

Begitu juga, Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij al-Salikin menegaskan bahwa syukur adalah setengah dari iman, sementara setengah lainnya adalah sabar. Artinya, syukur bukan sekadar nilai moral, tetapi pilar keimanan itu sendiri (Ibn Qayyim, Madarij al-Salikin, Juz 2, hlm. 244).

Nikmat yang Patut Disyukuri

Ada begitu banyak nikmat yang sering terabaikan dalam kehidupan sehari-hari, padahal sangat besar nilainya:

  1. Nikmat iman dan Islam
    Tidak semua manusia mendapat petunjuk untuk beriman kepada Allah. Inilah nikmat terbesar yang harus dijaga dengan memperkuat ibadah, menjauhi maksiat, dan terus belajar agama.

  2. Nikmat kesehatan
    Rasulullah Saw. bersabda: “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Sehat memungkinkan kita bekerja, beribadah, dan berkarya.

  3. Nikmat keluarga dan persaudaraan
    Kehadiran orang tua, pasangan, anak, dan sahabat sejati adalah karunia yang tak ternilai. Tidak semua orang memilikinya.

  4. Nikmat waktu dan kesempatan
    Setiap detik adalah peluang untuk memperbaiki diri. Sebagaimana firman Allah: “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. al-‘Ashr [103]: 1–3).

  5. Nikmat rezeki dan keamanan
    Rezeki yang halal dan negeri yang aman adalah dua nikmat besar yang harus kita jaga dan rawat.

Cara Mensyukuri Nikmat

Syukur tidak cukup hanya dengan ucapan. Para ulama menjelaskan bahwa mensyukuri nikmat dilakukan dengan tiga cara:

  1. Syukur dengan hati
    Menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, bukan semata hasil usaha manusia. Kesadaran ini mencegah kita dari kesombongan.

  2. Syukur dengan lisan
    Membiasakan ucapan pujian kepada Allah, seperti mengucap “alhamdulillah” dalam setiap keadaan. Bahkan doa setelah makan atau bangun tidur adalah bentuk syukur lisan yang sederhana namun bernilai besar.

  3. Syukur dengan perbuatan
    Menggunakan nikmat untuk kebaikan. Sehat dengan beribadah, harta dengan bersedekah, ilmu dengan mengajar, dan waktu dengan amal bermanfaat. Imam Hasan al-Bashri berkata: “Bersyukur atas nikmat adalah dengan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah.”

Syukur dalam Kehidupan Kontemporer Indonesia

Nilai syukur dapat kita temukan dalam tradisi masyarakat Indonesia. Misalnya, syukuran panen raya yang dilakukan petani sebagai bentuk pengakuan bahwa hasil bumi adalah karunia Allah. Begitu juga selamatan keluarga saat mendapat rezeki atau kelahiran anak, yang mencerminkan budaya syukur dalam bingkai Islam.

Pasca pandemi Covid-19, banyak orang lebih menyadari nikmat sehat dan nikmat berkumpul dengan keluarga. Syukur dalam konteks ini bisa diwujudkan dengan hidup lebih sehat, menjaga solidaritas sosial, serta memperbanyak ibadah sebagai wujud ketaatan.

Di level kebangsaan, syukur atas nikmat kemerdekaan dan keberagaman bangsa dapat diwujudkan dengan menjaga persatuan, menghindari ujaran kebencian, dan berkontribusi positif bagi negeri.

Dimensi Psikologis Syukur

Penelitian modern juga mendukung ajaran Islam tentang pentingnya syukur. Studi psikologi positif yang dilakukan oleh Robert Emmons (2007) menunjukkan bahwa kebiasaan bersyukur meningkatkan kebahagiaan, mengurangi stres, dan memperkuat hubungan sosial. Dengan kata lain, syukur memiliki dimensi universal yang bermanfaat bagi kesehatan mental manusia.

Penutup

Urgensi bersyukur dalam Islam bukan hanya sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sebagai kebutuhan psikologis dan sosial. Syukur melatih kita untuk tidak terjebak pada keluhan, melainkan fokus pada nikmat yang ada. Dengan pengakuan hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan, syukur akan menjadi energi yang menggerakkan kehidupan menuju keberkahan.

Sebagaimana firman Allah:

"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba’ [34]: 13).

Wallahu a‘lam.


Daftar Pustaka

  • Al-Qur’an al-Karim.
  • Al-Qurthubi, Abu ‘Abdullah. al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tt.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Kairo: Dar al-Ma’arif, 2004.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Madarij al-Salikin. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1996.
  • Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.
  • Muslim ibn Hajjaj. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats, 1991.
  • Emmons, Robert A. Thanks! How Practicing Gratitude Can Make You Happier. Boston: Houghton Mifflin, 2007.
  • Hasan al-Bashri, Mawa‘izh Hasan al-Bashri. Beirut: Dar al-Fikr, 1993.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanggapan MUI Kabupaten Lombok Tengah terhadap Ajaran Lalu Dahlan: Sebuah Klarifikasi dan Tindakan Tegas

Mengaku Wali, Membawa Panji, dan Menyesatkan Umat? Sebuah Refleksi Kritis atas Klaim Spiritual di Era Kontemporer

Adat dan Tradisi Perkawinan Suku Sasak