Benarkah Alkitab Sudah Diubah? Sebuah Telaah Sejarah dan Nalar Kritis

Oleh: Lukmanul Hakim

Pernyataan bahwa “Alkitab sudah diubah” telah menjadi narasi yang sering terdengar dalam percakapan antaragama. Tak jarang, klaim ini dilemparkan secara emosional tanpa dasar penelitian yang memadai, seolah menjadi vonis mutlak tanpa peluang untuk diteliti secara akademis. Pertanyaannya: benarkah Alkitab telah diubah? Bagaimana kita memahami masalah ini dengan lebih objektif dan rasional?

Antara Iman dan Sejarah Naskah

Perlu dibedakan antara kepercayaan agama dan kajian filologis. Umat Kristiani percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang telah disampaikan, ditulis, dan ditransmisikan dengan setia sepanjang sejarah. Di sisi lain, kajian ilmiah — terutama dalam bidang kritik teks — mengakui bahwa teks suci apa pun yang diturunkan dalam bentuk tulisan mengalami proses sejarah yang kompleks: penyalinan manual, penerjemahan ke berbagai bahasa, bahkan penyisipan atau pengurangan teks yang kadang tidak disengaja.

Namun, perlu dicatat pula bahwa variasi tersebut bukan berarti “pemalsuan” dalam arti manipulasi jahat. Dalam studi tekstual, ini lebih dikenal sebagai variants — yaitu perbedaan bacaan yang sering muncul karena faktor teknis, bukan ideologis. Justru, keberadaan ribuan manuskrip kuno (lebih dari 5.800 untuk Perjanjian Baru) memungkinkan para peneliti modern untuk membandingkan dan merekonstruksi bentuk teks yang paling awal dan otentik.

Proses Transmisi, Bukan Manipulasi

Sebagaimana Al-Qur’an juga mengalami perjalanan kodifikasi dari lisan ke tulisan, demikian pula Alkitab. Ia diterjemahkan dari bahasa Ibrani dan Aram (Perjanjian Lama) serta Yunani (Perjanjian Baru) ke Latin, Koptik, Siria, dan puluhan bahasa modern. Dalam ilmu filologi, proses ini disebut transmisi — bukan manipulasi. Artinya, perpindahan teks dari satu bahasa ke bahasa lain terjadi melalui kaidah penerjemahan, bukan dengan maksud untuk mengubah pesan inti.

Bahkan dalam Islam sendiri dikenal adanya qira’at (varian bacaan) Al-Qur’an yang diakui sah. Ini menandakan bahwa dinamika teks bukan berarti kesesatan, melainkan bagian dari sejarah pewarisan wahyu dalam konteks manusiawi.

Argumen Kejujuran Isi: Layakkah Jadi Bukti?

Sebagian apologet Kristen menyodorkan argumen menarik: “Jika Alkitab memang telah diubah demi kepentingan manusia, mengapa isinya begitu jujur mengkritik para tokoh utamanya?” Misalnya, Daud digambarkan sebagai raja yang pernah berzina dan membunuh, atau Petrus, murid utama Yesus, digambarkan menyangkal gurunya tiga kali. Jika ingin direkayasa, bukankah kisah-kisah ini seharusnya dihapus agar tampak indah?

Meski argumen ini bukan bukti tekstual, ia menyampaikan pesan teologis yang penting: bahwa teks sakral tidak hanya menyampaikan dogma, tetapi juga keberanian untuk bersikap jujur dan manusiawi. Tentu, pendekatan ini tidak lantas menggugurkan kemungkinan adanya redaksi historis, namun memperlihatkan kompleksitas warisan naskah yang tidak hitam-putih.

Belajar dari Tradisi Ilmiah dan Etika Dialog

Daripada saling menuding dan mengklaim “telah diubah” atau “dipalsukan”, seharusnya kita mengambil jalan tengah yang lebih terhormat: menghargai tradisi naskah agama lain sebagaimana kita ingin agama kita dihargai. Kritik boleh dilakukan, tapi harus dengan pendekatan ilmiah, bukan dengan prasangka atau semangat konfrontatif.

Dalam dunia akademik, karya-karya seperti Misquoting Jesus (Bart D. Ehrman), The Text of the New Testament (Bruce Metzger), atau Transmission of the Qur'an (Jonathan A.C. Brown) dapat menjadi rujukan bersama untuk mengkaji bagaimana teks-teks wahyu ditransmisikan dalam ruang sejarah.

Islam sendiri mengajarkan prinsip la ikraha fid-din — tidak ada paksaan dalam beragama — yang dalam konteks modern dapat diterjemahkan sebagai penghargaan terhadap keyakinan dan narasi agama lain. Kritik yang sehat bukan soal menyerang keyakinan, tetapi menguji keabsahan data dan argumen secara terbuka dan beretika.

Penutup

Maka, apakah Alkitab telah diubah? Jawaban paling adil adalah: ada variasi bacaan dalam sejarah penyalinan teks, sebagaimana juga terjadi dalam banyak manuskrip kuno, tetapi tidak berarti pesan teologisnya dimanipulasi secara sengaja. Untuk menjawab pertanyaan ini secara utuh, dibutuhkan keterbukaan, riset, dan penghormatan pada lintas tradisi keilmuan.

Dalam dunia yang semakin plural, kita memerlukan lebih banyak dialog akademik antaragama, bukan debat emosional yang berakhir pada saling merendahkan. Biarlah sejarah berbicara, dan nalar kita bekerja.


Lukmanul Hakim
Peneliti Kajian Lintas Agama dan Manuskrip Keagamaan
Blog: https://lukman1974.blogspot.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanggapan MUI Kabupaten Lombok Tengah terhadap Ajaran Lalu Dahlan: Sebuah Klarifikasi dan Tindakan Tegas

Mengaku Wali, Membawa Panji, dan Menyesatkan Umat? Sebuah Refleksi Kritis atas Klaim Spiritual di Era Kontemporer

Adat dan Tradisi Perkawinan Suku Sasak