Merdeka Itu Berat: Refleksi Kritis 80 Tahun Indonesia
Oleh: Lukmanul Hakim
Delapan puluh tahun sudah Republik Indonesia berdiri. Sebuah usia yang, bagi bangsa, bukan lagi muda. Dalam perjalanan panjang ini, kita telah melewati penjajahan, revolusi, krisis ekonomi, hingga transisi demokrasi. Namun, di balik euforia perayaan, ada pertanyaan mendasar yang patut direnungkan: apakah kita benar-benar sudah merdeka?
Merdeka itu berat. Bung Karno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Kalimat ini terbukti relevan hingga hari ini. Musuh kita bukan lagi kolonialisme asing, melainkan ketidakadilan, korupsi, ketimpangan, dan rendahnya integritas sebagian elite bangsa.
Menurut laporan Transparency International (2024), indeks persepsi korupsi Indonesia masih berada pada skor 34/100, menandakan praktik korupsi masih mengakar. Apakah ini cerminan bangsa yang benar-benar merdeka? Bagaimana mungkin kita mengaku bebas bila rakyat kecil masih terbebani pungutan liar dan pelayanan publik yang diskriminatif?
Selain itu, merdeka juga berarti bebas dari kemiskinan struktural. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2024) menunjukkan tingkat kemiskinan masih berada di kisaran 9,2 persen atau sekitar 25 juta jiwa. Ini bukan sekadar angka, tetapi manusia dengan kehidupan nyata, yang belum merasakan nikmatnya kemerdekaan dalam arti kesejahteraan. Apa artinya merdeka bila sebagian rakyat masih kesulitan makan layak dan pendidikan berkualitas?
Merdeka juga berarti memiliki kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya. Namun, hingga hari ini, kita masih menghadapi dilema ketergantungan pada investasi asing yang seringkali mengorbankan lingkungan dan hak masyarakat adat. Studi yang dipublikasikan oleh Journal of Contemporary Asia (Hadiz, 2017) menyebutkan bahwa praktik oligarki masih mendominasi politik dan ekonomi Indonesia, sehingga merdeka sering kali hanya menjadi slogan, bukan realitas.
Tantangan lain datang dari era digital. Media sosial yang semestinya menjadi ruang demokratisasi justru sering dipenuhi hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi politik. Demokrasi kita seolah terperangkap dalam pusaran emosi, bukan rasionalitas. Padahal, kemerdekaan sejati adalah kebebasan berpikir kritis dan bertanggung jawab, bukan kebebasan untuk merendahkan sesama anak bangsa.
Dalam konteks ini, merdeka harus dipahami sebagai tanggung jawab kolektif. Kemerdekaan bukan hadiah yang turun dari langit, melainkan hasil dari perjuangan yang harus terus dirawat. Merdeka berarti berani menegakkan hukum secara adil, meski terhadap orang yang berkuasa. Merdeka berarti memastikan rakyat kecil mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan, kesehatan, dan kesempatan hidup. Merdeka berarti berani berkata “tidak” pada segala bentuk penindasan, termasuk dari sesama anak bangsa.
Delapan puluh tahun Indonesia berdiri harus menjadi momen reflektif, bukan sekadar perayaan seremonial. Kita layak berbangga dengan capaian besar bangsa ini, tetapi kita juga tidak boleh menutup mata terhadap pekerjaan rumah yang belum selesai. Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan asing, melainkan juga dari segala bentuk penjajahan yang diciptakan oleh sistem yang timpang dan mentalitas yang korup.
Pada akhirnya, merdeka memang berat. Tetapi berat bukan alasan untuk berhenti. Justru karena berat, kemerdekaan harus diperjuangkan setiap hari, dalam setiap kebijakan, dalam setiap tindakan, dan dalam setiap hati nurani.
Referensi
- Transparency International. (2024). Corruption Perceptions Index.
- Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Profil Kemiskinan di Indonesia.
- Hadiz, V. R. (2017). Indonesia’s Oligarchy in Comparative Perspective. Journal of Contemporary Asia, 47(1), 1–22.
- Soekarno. (1966). Pidato-Pidato Pilihan Bung Karno.
Komentar
Posting Komentar