APA DAN MENGAPA GENOLINGUISTIK?: Sebuah Tinjauan Kritis terhadap Gagasan Prof. Dr. Mahsun, M.S.

 Oleh: Lukmanul Hakim

Pendahuluan

Dalam beberapa dekade terakhir, studi interdisipliner berkembang pesat untuk menjawab persoalan kompleks tentang asal-usul, keragaman, dan perjalanan umat manusia. Salah satu bidang yang mulai dilirik adalah genolinguistik, yakni kajian yang menggabungkan ilmu linguistik dan genetika dalam menelusuri sejarah populasi manusia. Prof. Dr. Mahsun, M.S. menegaskan bahwa genolinguistik berupaya menjelaskan pengelompokan dan persebaran populasi manusia dengan bertumpu pada dua hal: bahasa sebagai identitas kultural, dan gen sebagai penanda biologis yang diwariskan antargenerasi.

Esai ini bertujuan untuk memberikan penjelasan kritis atas gagasan tersebut, sekaligus menghadirkan contoh konkret penelitian genolinguistik, khususnya terkait konteks Nusantara dan dunia Austronesia.

Pembahasan

1. Potensi Genolinguistik

Kekuatan utama genolinguistik terletak pada kemampuannya mengintegrasikan dua jenis data: Linguistik: kekerabatan bahasa, difusi kosakata, serta perubahan fonologis dan morfologis yang bisa ditelusuri secara historis; dan Genetika: variasi DNA (haplogroup mitokondria, kromosom-Y, SNP autosomal) yang menunjukkan pola migrasi dan kekerabatan biologis.

Integrasi ini memungkinkan rekonstruksi yang lebih kaya terhadap sejarah migrasi manusia, sebagaimana telah dilakukan dalam kajian Out of Africa hingga migrasi Austronesia ke Pasifik.

 2. Kritik terhadap Genolinguistik

Meskipun menawarkan potensi besar, pendekatan genolinguistik menghadapi beberapa kritik mendasar.

Bahasa ≠ Gen

Gen diwariskan secara biologis (vertikal), sedangkan bahasa bisa diwariskan, ditinggalkan, atau diadopsi (horizontal). Misalnya, masyarakat di Madagaskar menggunakan bahasa Austronesia meski genetiknya dominan Afrika.

Reduksionisme

Ada bahaya reduksi manusia hanya pada dua variabel (bahasa dan gen), padahal migrasi juga ditentukan oleh politik, ekonomi, agama, dan ekologi.

Risiko determinisme biologis.

Jika tidak hati-hati, genolinguistik bisa tergelincir pada klaim bahwa bahasa “ditentukan” oleh gen, padahal bahasa adalah konstruksi sosial-kultural yang cair.

Aspek etis

Penelitian yang menghubungkan gen dan bahasa bisa disalahgunakan untuk kepentingan ideologis, misalnya mengklaim superioritas suatu etnis.

 3. Contoh Penelitian Genolinguistik

a. Migrasi Austronesia ke Nusantara

Secara linguistik, bahasa Austronesia di Indonesia ditelusuri berasal dari Taiwan (Adelaar & Himmelmann, 2011; Blust, 1999). Secara genetik, penelitian Soares et al. (2011) dan Lipson et al. (2014) mengonfirmasi jejak DNA Taiwan di masyarakat Nusantara. Integrasi ini memperkuat hipotesis Out of Taiwan, meski belakangan diperhalus dengan temuan percampuran lokal dengan gen Papua-Melanesia.

b. Alor–Pantar (NTT)

Bahasa-bahasa di Alor–Pantar berasal dari rumpun non-Austronesia. Analisis genetika Hudjashov et al. (2017) menunjukkan populasi Alor–Pantar dekat dengan gen Papua. Kasus ini menunjukkan koherensi antara bahasa dan genetik.

c. Madagaskar

Bahasa Malagasi berasal dari cabang Austronesia (Barito, Kalimantan) (Kusuma et al., 2016). Genetik masyarakat Madagaskar dominan Afrika (60–70%) (Pierron et al., 2018). Contoh ini menunjukkan mismatch antara bahasa dan gen.

d. Papua

Bahasa Papua sangat beragam (ratusan keluarga bahasa non-Austronesia). Penelitian genetika Malaspinas et al. (2016) menunjukkan populasi Papua merupakan salah satu kelompok tertua dengan DNA unik. Keragaman bahasa dan isolasi genetik berjalan beriringan.

 4. Implikasi untuk Kajian Nusantara

Konteks Indonesia sangat kaya untuk riset genolinguistik. Sebagai kawasan dengan ribuan bahasa dan variasi genetik yang tinggi, Nusantara dapat menjadi laboratorium alami bagi studi ini. Namun, metodologi harus berhati-hati agar tidak menyederhanakan sejarah kompleks bangsa-bangsa di wilayah ini.

Simpulan

           Genolinguistik adalah bidang potensial yang mempertemukan biologi dan linguistik dalam upaya memahami keragaman manusia. Gagasan Prof. Dr. Mahsun, M.S. layak diapresiasi sebagai dorongan untuk memperluas cakrawala linguistik Indonesia agar lebih interdisipliner. Namun, pendekatan ini harus dibarengi dengan kritis-metodologis: tidak menyamakan bahasa dengan gen secara sederhana, tidak terjebak pada reduksionisme, dan selalu membuka ruang bagi faktor historis, sosial, dan politik. Dengan begitu, genolinguistik dapat benar-benar menjadi “ruang dialog” antarilmu, bukan hanya upaya menempelkan dua disiplin yang berbeda.

Daftar Pustaka

Adelaar, A., & Himmelmann, N. (2011). The Austronesian Languages of Asia and Madagascar (1st ed.). Routledge.

Blust, R. (1999). Subgrouping, Circularity and Extinction: Some Issues in Austronesian Comparative Linguistics. In Elizabeth Zeitoun & Paul Jen-kuei Li (Eds.), Selected papers from Eighth International Conference on Austronesian linguistics (pp. 31–94). Academica Sinica.

Hudjashov, G., Karafet, T. M., Lawson, D. J., Downey, S., Savina, O., Sudoyo, H., Lansing, J. S., Hammer, M. F., & Cox, M. P. (2017). Complex Patterns of Admixture across the Indonesian Archipelago. Molecular Biology and Evolution, 34(10), 2439–2452. https://doi.org/10.1093/molbev/msx196

Kusuma, P., Brucato, N., Cox, M. P., Pierron, D., Razafindrazaka, H., Adelaar, A., Sudoyo, H., Letellier, T., & Ricaut, F.-X. (2016). Contrasting Linguistic and Genetic Origins of the Asian Source Populations of Malagasy. Scientific Reports, 6(1), 26066. https://doi.org/10.1038/srep26066

Lipson, M., Loh, P.-R., Patterson, N., Moorjani, P., Ko, Y.-C., Stoneking, M., Berger, B., & Reich, D. (2014). Reconstructing Austronesian population history in Island Southeast Asia. Nature Communications, 5(1), 4689. https://doi.org/10.1038/ncomms5689

Malaspinas, A.-S., Westaway, M. C., Muller, C., Sousa, V. C., Lao, O., Alves, I., Bergström, A., Athanasiadis, G., Cheng, J. Y., Crawford, J. E., Heupink, T. H., Macholdt, E., Peischl, S., Rasmussen, S., Schiffels, S., Subramanian, S., Wright, J. L., Albrechtsen, A., Barbieri, C., … Willerslev, E. (2016). A genomic history of Aboriginal Australia. Nature, 538(7624), 207–214. https://doi.org/10.1038/nature18299

Pierron, D., Heiske, M., Razafindrazaka, H., Pereda-loth, V., Sanchez, J., Alva, O., Arachiche, A., Boland, A., Olaso, R., Deleuze, J.-F., Ricaut, F.-X., Rakotoarisoa, J.-A., Radimilahy, C., Stoneking, M., & Letellier, T. (2018). Strong Sselection During the Last Millennium for African Ancestry in the Admixed Population of Madagascar. Nature Communications, 9(1), 932. https://doi.org/10.1038/s41467-018-03342-5

Soares, P., Rito, T., Trejaut, J., Mormina, M., Hill, C., Tinkler-Hundal, E., Braid, M., Clarke, D. J., Loo, J.-H., Thomson, N., Denham, T., Donohue, M., Macaulay, V., Lin, M., Oppenheimer, S., & Richards, M. B. (2011). Ancient Voyaging and Polynesian Origins. The American Journal of Human Genetics, 88(2), 239–247. https://doi.org/10.1016/j.ajhg.2011.01.009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanggapan MUI Kabupaten Lombok Tengah terhadap Ajaran Lalu Dahlan: Sebuah Klarifikasi dan Tindakan Tegas

Mengaku Wali, Membawa Panji, dan Menyesatkan Umat? Sebuah Refleksi Kritis atas Klaim Spiritual di Era Kontemporer

Adat dan Tradisi Perkawinan Suku Sasak