Mengintegrasikan Nilai, Kognisi, dan Aksi: Fondasi Kurikulum Pembelajaran Mendalam

Mengintegrasikan Nilai, Kognisi, dan Aksi: Fondasi Kurikulum Pembelajaran Mendalam

Oleh: Lukmanul Hakim

Pendidikan, pada hakikatnya, bukan semata-mata proses transfer ilmu, melainkan ikhtiar memanusiakan manusia. Dalam kerangka inilah, penting bagi kita untuk meninjau ulang cara kita menyusun dan menjalankan kurikulum di sekolah-sekolah kita. Seiring dengan kompleksitas zaman dan tantangan moral di tengah masyarakat modern, pendekatan pembelajaran yang dangkal sudah tidak memadai. Kini saatnya menapaki arah baru: kurikulum pembelajaran mendalam—yang menempatkan nilai, kognisi, dan aksi sebagai satu kesatuan integral.

Belajar Tak Cukup Hanya Mengingat

Selama bertahun-tahun, sistem pendidikan kita lebih menekankan pada penguasaan materi dan kemampuan menghafal. Indikator keberhasilan pun kerap ditentukan oleh angka-angka dalam rapor dan hasil ujian. Padahal, realitas kehidupan menuntut lebih dari sekadar kemampuan kognitif. Kita butuh manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak, peduli, dan mampu bertindak berdasarkan nilai.

Fenomena ini diperkuat oleh berbagai studi internasional, termasuk Programme for International Student Assessment (PISA), yang kerap menempatkan Indonesia pada posisi kurang menggembirakan dalam hal literasi, numerasi, dan pemecahan masalah. Ini seharusnya menjadi bahan perenungan bersama: barangkali selama ini kita terlalu sibuk mengajar anak-anak kita apa yang harus diingat, tetapi lupa mengajarkan bagaimana harus berpikir dan untuk apa pengetahuan itu digunakan.

Kurikulum Pembelajaran Mendalam: Bukan Sekadar Tren

Pembelajaran mendalam atau deep learning dalam konteks kurikulum bukanlah tren sesaat. Ia merupakan pendekatan yang menekankan pentingnya pemahaman yang utuh, keterkaitan antardisiplin, serta pembentukan karakter dan sikap reflektif dalam diri peserta didik. Dalam pembelajaran mendalam, siswa diajak untuk menggali makna, menganalisis secara kritis, serta menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata yang berdampak bagi dirinya dan masyarakat.

Lebih dari itu, pembelajaran mendalam juga mengajak peserta didik untuk berpikir sistemik, membangun empati, dan bertindak solutif. Inilah esensi pendidikan yang dirindukan: pendidikan yang tak hanya membekali kepala, tetapi juga membentuk hati dan tangan.

Tiga Pilar Pembelajaran Mendalam

1. Nilai (Values):

Setiap ilmu yang diajarkan harus berpijak pada nilai. Sebab, tanpa nilai, pengetahuan bisa membutakan arah. Dalam Islam, pendidikan bukan hanya soal tafaqquh fi ad-din (memahami agama), tetapi juga soal tazkiyah an-nafs (pensucian jiwa). Maka, nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kasih sayang harus melekat dalam setiap materi ajar—apapun mata pelajarannya.

Pelajaran sejarah, misalnya, tak cukup hanya menghafal tahun peristiwa. Ia harus menggugah kesadaran akan pentingnya perdamaian dan menghormati perbedaan. Pelajaran sains pun tak boleh steril dari nilai etis; sains tanpa moral bisa menciptakan bencana ekologis.

2. Kognisi (Thinking):

Pendidikan harus melatih kemampuan berpikir, bukan sekadar mengingat. Di sinilah pentingnya literasi berpikir kritis dan reflektif. Anak-anak perlu dilatih untuk mengajukan pertanyaan, bukan hanya menjawab soal. Mereka perlu diajak berpikir lintas disiplin dan memahami hubungan sebab-akibat dalam kehidupan.

Kurikulum pembelajaran mendalam mendorong penggunaan metode yang variatif seperti pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), pembelajaran kolaboratif, serta dialog filosofis di kelas. Semua ini bertujuan untuk melatih cara berpikir tingkat tinggi (high-order thinking skills), yang esensial dalam menghadapi dinamika global yang kompleks.

3. Aksi (Action):

Ilmu yang tidak diwujudkan dalam tindakan hanya akan menjadi teori kosong. Maka, kurikulum yang baik harus membimbing peserta didik untuk bertindak nyata. Konsep "learning by doing" harus menjadi budaya belajar.

Anak-anak tidak hanya belajar tentang kebersihan, tetapi juga diajak membersihkan lingkungan sekolah. Mereka tidak hanya bicara soal empati, tetapi juga diajak terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Dengan begitu, sekolah menjadi tempat pembentukan watak dan keterampilan hidup, bukan sekadar ruang ujian.

Relevansi dengan Kurikulum Merdeka

Secara normatif, Kurikulum Merdeka sudah membuka ruang bagi pendekatan pembelajaran mendalam. Dimensi Profil Pelajar Pancasila—seperti bernalar kritis, mandiri, dan berkebhinekaan global—merupakan pintu masuk penting untuk integrasi nilai, kognisi, dan aksi. Namun, tantangan terbesarnya adalah pada aspek implementasi. Banyak guru belum mendapatkan pelatihan yang memadai, bahkan tidak sedikit yang masih terbebani oleh administrasi yang menghambat kreativitas.

Oleh karena itu, reformasi kurikulum harus disertai dengan reformasi cara pandang para pendidik. Guru harus diposisikan bukan sebagai pengajar semata, melainkan sebagai fasilitator pembelajaran, penanam nilai, sekaligus teladan kehidupan. Pemerintah, dalam hal ini Kemendikbudristek, juga perlu terus memperkuat ekosistem pendidikan yang berpihak pada pembelajaran bermakna, bukan sekadar capaian angka.

Penutup: Mendidik Jiwa, Bukan Hanya Otak

Pendidikan sejati adalah pendidikan yang menyentuh jiwa. Ia melibatkan seluruh aspek kemanusiaan: akal, rasa, dan raga. Kurikulum pembelajaran mendalam adalah jalan untuk mencapai pendidikan yang demikian. Ia bukan sekadar perubahan metode, tetapi perubahan paradigma.

Jika kita sungguh ingin membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan bermanfaat bagi semesta, sudah saatnya kita merancang kurikulum yang berpijak pada nilai, menyuburkan pemikiran, dan mendorong aksi nyata. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling tahu, tetapi siapa yang paling bisa memberi makna.

Daftar Pustaka

  • Fullan, M., & Langworthy, M. (2014). A Rich Seam: How New Pedagogies Find Deep Learning. Pearson.
  • Kemendikbudristek RI. (2022). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka.
  • OECD. (2019). PISA 2018 Results (Volume I): What Students Know and Can Do.
  • Freire, P. (2005). Pedagogy of the Oppressed. Continuum.
  • Al-Abrasy, A. (1980). Dasar-Dasar Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
  • Zakiah Daradjat. (1996). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanggapan MUI Kabupaten Lombok Tengah terhadap Ajaran Lalu Dahlan: Sebuah Klarifikasi dan Tindakan Tegas

Mengaku Wali, Membawa Panji, dan Menyesatkan Umat? Sebuah Refleksi Kritis atas Klaim Spiritual di Era Kontemporer

Adat dan Tradisi Perkawinan Suku Sasak