Al-Qur’an Tak Pernah Disunting: Menelusuri Keaslian Wahyu dan Tantangan yang Tak Terbantahkan
Oleh: Lukmanul Hakim
Di tengah derasnya hoaks dan revisi informasi, Al-Qur’an hadir sebagai satu-satunya teks keagamaan yang tak pernah disunting sejak diturunkan lebih dari 14 abad yang lalu. Kitab ini tetap otentik, lafalnya terjaga, dan isinya utuh sebagaimana yang diterima oleh Nabi Muhammad ﷺ dari Jibril ‘alaihis-salām.
Pernyataan keaslian ini bukanlah sekadar dogma keimanan, melainkan dapat diverifikasi melalui sejarah, manuskrip kuno, dan metode transmisi ilmiah yang tak tertandingi. Bahkan, para sarjana Barat yang skeptis pun gagal membuktikan adanya perubahan atau redaksi dalam teks Al-Qur’an.
📖 Janji Ilahi tentang Penjagaan Al-Qur’an
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
﴿ إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴾
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya."
(QS. Al-Ḥijr: 9)
Ayat ini menjadi jaminan ilahiah bahwa wahyu Al-Qur’an akan selalu terjaga—baik lafaz maupun maknanya. Dan sejarah membuktikan, janji ini benar-benar ditepati.
📜 Kodifikasi Sejak Awal: Dari Hafalan hingga Mushaf
Rasulullah ﷺ menerima wahyu secara bertahap selama 23 tahun. Ayat-ayat itu diulang-ulang dan dihafal langsung oleh para sahabat, serta ditulis pada lembaran kulit, tulang, dan batu tipis.
Pasca wafat Rasulullah ﷺ, atas inisiatif Khalifah Abu Bakar dan kemudian Utsman bin ‘Affan, Al-Qur’an disatukan dalam bentuk mushaf baku. Proyek ini dipimpin oleh Zaid bin Tsabit, penulis wahyu Rasulullah ﷺ.
Imam al-Bukhari meriwayatkan:
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ يَوْمَ مَعْرَكَةِ الْيَمَامَةِ … فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ الْقُرْآنَ، أَجْمَعُهُ مِنَ الْعُسُبِ وَاللِّخَافِ وَصُدُورِ الرِّجَالِ
“Abu Bakar mengutusku setelah perang Yamamah... maka aku pun mengumpulkan Al-Qur’an dari pelepah kurma, batu tipis, dan hafalan manusia.”
(HR. al-Bukhari, no. 4986)
Hasil kodifikasi itu disalin dan disebar ke berbagai wilayah, dan masih identik dengan mushaf Al-Qur’an yang kita baca saat ini. Inilah bukti bahwa tak ada redaksi baru atau edisi yang diperbarui dalam sejarah Al-Qur’an.
👳♂️ Hafalan Kolektif dan Audit Publik
Tradisi hafalan (ḥifẓ) menjadi lapisan penjaga kedua. Sejak zaman Nabi hingga kini, jutaan Muslim menghafal Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Bahkan seorang hafiz yang salah membaca satu huruf pun akan langsung dikoreksi oleh jamaah—baik dalam shalat maupun muraja’ah.
Syaikh Muhammad Taqi Utsmani menyebut ini sebagai “living miracle”, mukjizat hidup yang terus terpelihara dari generasi ke generasi.
🧪 Orientalis Mengakui Keotentikan
Sejumlah sarjana Barat yang awalnya skeptis pun tak menemukan bukti bahwa Al-Qur’an mengalami perubahan. Beberapa bahkan kagum terhadap sistem penjagaannya.
-
Kenneth Cragg (The Event of the Qur’an, 1971):
“Al-Qur’an memiliki kesinambungan lisan yang belum pernah ada tandingannya dalam sejarah agama-agama.” -
Michael Zwettler (The Oral Tradition of the Quran, 1978):
“Tak ada karya sastra lain dalam sejarah manusia yang begitu cepat menyebar dan begitu kuat dihafal dan diaudit oleh komunitas pembacanya.” -
Angelika Neuwirth, pakar filologi Arab:
“Al-Qur’an bukan produk sosial biasa. Gaya bahasanya melampaui model sastra Arab awal manapun.”
📌 Tantangan yang Tak Pernah Bisa Dijawab
Al-Qur’an bahkan menantang umat manusia untuk membuat satu surah saja yang sebanding dengannya:
﴿ وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ ﴾
“Jika kamu ragu terhadap (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah yang semisal dengannya...”
(QS. Al-Baqarah: 23)
Tantangan ini masih berlaku hingga kini, namun tak ada seorang pun yang mampu menirunya secara sempurna. Bukan karena keterbatasan bahasa Arab, melainkan karena struktur, makna, dan retorika Al-Qur’an memiliki karakter ilahiah yang tidak bisa direka-reka manusia.
📂 Tidak Ada Versi Lama, Tidak Ada Edisi Revisi
Pertanyaan kritis yang sering dilontarkan:
“Kalau Al-Qur’an pernah diubah, di mana versi lamanya?”
Jawabannya: tidak ada. Tak ditemukan satu manuskrip pun yang menyimpang dari teks standar. Bahkan manuskrip Al-Qur’an kuno seperti Mushaf Topkapi (Turki), Mushaf Samarkand (Uzbekistan), dan Fragmen Sana’a (Yaman) — semuanya selaras dengan Mushaf Utsmani.
Penelitian oleh Gerd Puin, filolog asal Jerman yang meneliti manuskrip Sana’a, akhirnya mengakui:
“Saya kira Al-Qur’an jauh lebih utuh dan terjaga daripada yang kita kira.” (dikutip dalam Atlantic Monthly, 1999)
🛡️ Simpulan: Wahyu yang Mustahil Dipalsukan
Dalam dunia yang terus berubah, hanya Al-Qur’an yang tetap tidak berubah. Tidak ada ayat yang ditambahkan. Tidak ada surah yang dihapus. Tidak ada kata yang diubah.
Ini bukan hanya mukjizat linguistik, tapi juga mukjizat dokumentasi dan spiritualitas umat. Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab yang bisa dikatakan:
Tak pernah disunting, tak pernah terbantahkan.
Dan ketika dunia bertanya:
“Mengapa Al-Qur’an masih relevan?”
Jawabannya adalah:
“Karena ia tak pernah berubah.”
📚 Daftar Referensi
- Al-Qur’an al-Karim, berbagai tafsir klasik (Tafsir al-Ṭabari, al-Qurṭubi, al-Razi).
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Faḍā’il al-Qur’ān.
- Kenneth Cragg, The Event of the Quran (1971)
- Michael Zwettler, The Oral Tradition of the Quran (1978)
- Angelika Neuwirth, Scripture, Poetry and the Making of a Community (2014)
- Gerd Puin, dalam “What is the Koran?”, Atlantic Monthly, 1999
- M. Taqi Uthmani, Ulum al-Qur’an: An Introduction to the Sciences of the Qur'an (1983)
- M. M. Al-Azami, The History of the Qur’anic Text (2003)
Komentar
Posting Komentar