Virtual Reality dan Realitas Ilahi: Menjelajahi Batasan Persepsi dalam Islam
Virtual Reality (VR) dan teknologi imersif lainnya telah membuka pintu menuju pengalaman yang sebelumnya tak terbayangkan. Kita kini bisa "memasuki" dunia digital, berinteraksi dengan lingkungan buatan, dan bahkan merasakan sensasi kehadiran di tempat yang secara fisik tidak ada. Kemampuan VR untuk mensimulasikan realitas ini memicu pertanyaan filosofis dan teologis yang mendalam, khususnya bagi umat Islam: bagaimana teknologi ini berinteraksi dengan pemahaman kita tentang realitas, kebenaran, dan Realitas Ilahi itu sendiri? Apakah VR sekadar hiburan, ataukah ia bisa menjadi jembatan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang ciptaan Allah dan dimensi keberadaan yang tak kasat mata?
Realitas dan Ilusi dalam Perspektif Islam
Oleh: Lukmanul Hakim
Dalam filsafat Islam, perbedaan antara realitas sejati dan ilusi atau maya adalah konsep yang penting. Al-Qur'an sering kali menyebut kehidupan dunia ini sebagai "permainan dan senda gurau" (QS. Al-An'am: 32) dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal. Ini menunjukkan bahwa meskipun kita merasakan dunia ini sebagai nyata, ada tingkat realitas yang lebih tinggi dan lebih fundamental. Seyyed Hossein Nasr, seorang filsuf dan cendekiawan muslim terkemuka, dalam banyak karyanya—terutama Knowledge and the Sacred—menjelaskan bahwa realitas ilahi (Allah) adalah realitas absolut, dan segala sesuatu selain-Nya adalah manifestasi atau bayangan dari realitas tersebut. Dunia yang kita tinggali adalah maya atau khayal dalam pengertian bahwa ia bersifat sementara, berubah, dan tidak memiliki eksistensi mandiri tanpa Allah.
VR, dengan kemampuannya menciptakan dunia yang terasa nyata namun sebenarnya tidak ada secara fisik, dapat menjadi analogi modern yang kuat untuk memahami konsep maya ini. Ini mengajarkan kita bahwa persepsi kita tentang realitas sangat subjektif dan dapat dimanipulasi. Jika sebuah perangkat VR dapat membuat kita merasa berada di Mars, bagaimana kita bisa sepenuhnya yakin tentang realitas pengalaman kita sehari-hari tanpa kerangka referensi yang lebih tinggi? Dari sinilah, VR dapat memicu refleksi tentang sifat sementara dunia dan kebenaran mutlak yang ada di baliknya.
Tantangan Etis dan Spiritual VR
Meskipun potensi VR untuk edukasi dan simulasi sangat besar, ada pula tantangan etis dan spiritual yang perlu dipertimbangkan. Penggunaan VR yang berlebihan atau tidak tepat dapat mengaburkan batas antara dunia fisik dan digital, berpotensi mengarah pada keterasingan sosial, atau bahkan kecanduan. Dr. Yasir Qadhi, seorang cendekiawan Islam kontemporer, sering mengingatkan umat Muslim tentang pentingnya keseimbangan (wasatiyyah) dalam segala aspek kehidupan, termasuk penggunaan teknologi. Jika VR membuat seseorang mengabaikan tanggung jawab duniawi atau hubungan sosial, hal itu bertentangan dengan ajaran Islam.
Selain itu, muncul pertanyaan tentang penggunaan VR untuk simulasi pengalaman spiritual. Apakah mengunjungi Ka'bah di Metaverse, misalnya, dapat menggantikan pengalaman haji yang sesungguhnya? Mayoritas ulama dan pakar sepakat bahwa pengalaman virtual, meskipun edukatif, tidak dapat menggantikan ibadah fisik yang memiliki dimensi spiritual dan sosial yang mendalam. Pengalaman fisik haji, dengan segala tantangan dan interaksinya, memiliki dampak spiritual yang tak tergantikan. Namun, VR dapat menjadi alat bantu yang berharga untuk persiapan haji, edukasi tentang sejarah Islam, atau visualisasi tempat-tempat suci bagi mereka yang belum mampu mengunjunginya secara fisik.
VR sebagai Jembatan Pemahaman
Meskipun demikian, VR juga menawarkan potensi unik untuk memperdalam pemahaman tentang realitas. Dengan simulasi yang akurat, VR dapat membantu kita memahami konsep-konsep abstrak atau fenomena yang sulit diamati. Misalnya, seorang muslim dapat "mengalami" bagaimana planet-planet bergerak mengelilingi matahari, bagaimana sel berfungsi, atau bahkan visualisasi struktur mikroskopis yang kompleks, yang semuanya merupakan ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah.
Para ahli masa depan, termasuk di bidang simulasi dan filosofi teknologi, berpandangan bahwa teknologi imersif akan semakin mengaburkan batas antara persepsi dan kenyataan. Dalam konteks Islam, ini justru bisa menjadi pengingat akan pesan Al-Qur'an bahwa realitas sejati bukanlah apa yang terlihat oleh mata telanjang, melainkan apa yang dirasakan oleh hati dan akal yang bersih.
Pada akhirnya, virtual reality bukanlah ancaman, melainkan alat. Bagaimana alat ini digunakan—apakah untuk memperkuat ilusi atau untuk membuka pikiran menuju realitas ilahi yang lebih besar—sepenuhnya bergantung pada kerangka etis dan spiritual yang kita terapkan. Dengan panduan syariah, VR dapat menjadi medium yang kuat untuk pendidikan, introspeksi, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang alam semesta sebagai cerminan kekuasaan dan keindahan Allah. Ini adalah langkah menuju masa depan di mana teknologi, alih-alih mengasingkan kita dari kebenaran, justru dapat mendekatkan kita kepadanya.
Daftar Pustaka
- Al-Qur'an dan Terjemahannya, Surah Al-An'am ayat 32.
- Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred. State University of New York Press, 1989.
- Qadhi, Yasir. Berbagai Ceramah dan Tulisan tentang Fiqih Kontemporer dan Etika Teknologi.
Komentar
Posting Komentar