Saatnya Pemuda Bicara: Bukan Sekadar Pewaris, Tapi Penggerak Perubahan
Oleh: Lukmanul Hakim
Ketika kita berbicara tentang masa depan bangsa, nama yang selalu disebut adalah pemuda. Namun, dalam realitas sosial hari ini, pemuda seringkali hanya disebut sebagai "harapan", tanpa benar-benar diberi ruang untuk berbicara, bertindak, dan mengambil peran nyata. Padahal, sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa perubahan besar di negeri ini selalu dimulai dari suara dan langkah kaki kaum muda.
📘 Pendidikan: Dari Objek Menjadi Subjek Perubahan
Di tengah krisis literasi dan merosotnya minat baca, banyak anak muda justru tampil sebagai pelopor gerakan belajar di luar ruang kelas. Mereka membangun taman baca di desa, membuat konten edukatif di TikTok, hingga mengajar anak-anak marginal secara sukarela. Ini bukti bahwa pemuda tidak hanya sekadar peserta didik, tetapi juga produsen ilmu dan agen pemberdayaan.
Pemuda hari ini butuh diakui bukan hanya dari indeks akademik, tapi dari kontribusi sosial yang nyata. Karena pendidikan sejatinya bukan hanya soal nilai, tapi soal nilai-nilai.
🕌 Dakwah: Dari Mimbar ke Medsos
Dulu, dakwah mungkin identik dengan ceramah di masjid. Kini, dakwah bergerak dinamis: dari YouTube, podcast, sampai thread X (Twitter). Banyak pemuda yang berdakwah bukan lewat kata-kata, tapi lewat karya, gaya hidup, dan keteladanan. Mereka mengemas nilai-nilai Islam dengan cara yang segar, santun, dan penuh empati—membangun jembatan, bukan tembok.
Di sinilah pentingnya peran pemuda sebagai penyampai pesan-pesan ketuhanan dalam bahasa zaman. Karena agama akan terasa jauh jika tidak dibawakan oleh mereka yang hidup dalam denyut nadi generasi kini.
👥 Sosial: Pemuda Tak Lagi Netral
Dari gerakan lingkungan, pengentasan kemiskinan, hingga advokasi keadilan sosial, pemuda hari ini makin menyadari bahwa netralitas bukanlah pilihan saat ketimpangan terjadi di depan mata. Mereka turun ke jalan, menggalang dana daring, dan menggagas program sosial berbasis komunitas. Gerakan mereka mungkin tak selalu masuk berita utama, tapi dampaknya terasa nyata di tengah masyarakat.
🎭 Budaya: Antara Menjaga dan Mencipta
Banyak orang khawatir budaya lokal akan ditinggalkan generasi muda. Tapi kekhawatiran itu tak sepenuhnya benar. Di berbagai daerah, pemuda justru tampil sebagai penjaga warisan budaya—menghidupkan kembali musik tradisional, bahasa daerah, hingga membangun museum digital.
Mereka tak sekadar melestarikan, tetapi menyuntikkan napas baru agar budaya tidak menjadi fosil, melainkan terus tumbuh dan relevan.
🧭 Waktunya Mendengar dan Memercayai Pemuda
Pemuda tidak butuh dielu-elukan dalam seremoni. Mereka butuh diakui perannya, didengar suaranya, dan diberikan ruang nyata untuk berbuat. Mereka tidak sekadar pewaris masa depan, tetapi arsitek dari masa depan itu sendiri.
Kini, bukan saatnya lagi kita bertanya "Apa yang bisa dilakukan pemuda untuk bangsa?" Tapi kita harus bertanya:
"Sudahkah bangsa memberi kepercayaan penuh pada pemuda?"
Komentar
Posting Komentar