Haji Mabrur: Antara Visi Langit dan Misi Sosial
Oleh: Lukmanul Hakim
(Pemerhati sosial-keagamaan, penulis kajian Islam dan budaya)
Kepulangan jamaah haji tahun 2025 sudah mulai tampak di berbagai daerah. Tangis haru, pelukan keluarga, dan tradisi penyambutan menjadi panorama tahunan yang selalu menggugah rasa. Namun di balik kemeriahan itu, ada pertanyaan mendalam yang layak direnungkan bersama: apakah haji yang telah ditunaikan itu telah membuahkan kemabruran?
Dalam banyak hadis, Nabi SAW bersabda: "Al-hajju al-mabrūru laisa lahu jazā'un illā al-jannah", haji mabrur tiada balasan baginya selain surga. Tetapi bagaimana kita mengukur mabrur tidaknya haji seseorang? Tentu bukan hanya dari jumlah doa yang dilafalkan, panjangnya waktu di Tanah Suci, atau banyaknya oleh-oleh yang dibagikan saat pulang. Haji mabrur adalah integrasi antara visi langit dan misi sosial.
Visi Langit: Tauhid dan Tunduk Total
Ibadah haji adalah ekspresi puncak dari tauhid, ketundukan total kepada Allah. Berpakaian ihram, thawaf mengelilingi Ka'bah, wukuf di Arafah—semua adalah simbol pertaubatan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Ilahi. Di sana manusia tak lagi dibedakan oleh status sosial, kekayaan, atau jabatan. Semua setara di hadapan Tuhan.
Namun spiritualitas yang hanya berhenti pada ritual tidak cukup. Haji bukan hanya soal zikir dan doa, tapi juga soal perubahan diri. Haji yang benar-benar mabrur harus melahirkan kesadaran baru: bahwa hidup ini adalah pengabdian. Inilah visi langit yang mengakar dalam spiritualitas tauhid.
Misi Sosial: Etika dan Empati dalam Hidup Sehari-hari
Kemabruran haji justru diuji setelah pulang ke tanah air. Apakah nilai-nilai haji terbawa dalam cara bicara, cara bergaul, dalam pekerjaan, politik, dan keluarga? Di sinilah dimensi sosial haji memainkan peran penting. Haji mabrur akan tercermin dalam kejujuran di pasar, kesederhanaan dalam hidup, dan kesediaan membantu yang lemah.
Imam al-Ghazali menyebut bahwa ibadah tidak sahih jika tidak melahirkan dampak etik dan moral. Artinya, haji mabrur bukan hanya soal hubungan dengan Allah (habl min Allah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia (habl min al-nas). Dari Ka'bah menuju kampung halaman, dari wukuf ke wujud nyata kasih sayang sosial.
Tantangan Zaman: Haji sebagai Identitas atau Transformasi?
Di tengah budaya konsumerisme dan kemegahan visual, haji terkadang tergelincir menjadi simbol status sosial. Label "haji" digunakan untuk meningkatkan martabat, bukan memperbaiki akhlak. Sebagian bahkan menjadikan haji sebagai proyek prestise, bukan jalan transformasi spiritual.
Di sinilah umat Islam perlu kembali pada esensi. Haji mabrur bukan sekadar gelar, tapi karakter. Ia adalah pribadi yang lebih lembut setelah wukuf, lebih adil setelah melempar jumrah, dan lebih sabar setelah mencium Hajar Aswad.
Menjadi Haji Mabrur di Tengah Masyarakat
Masyarakat Indonesia butuh lebih banyak figur yang menjadi teladan dari hasil kemabruran hajinya. Ketika pemimpin yang telah berhaji menegakkan keadilan, pedagang berhaji menolak korupsi, dan warga berhaji menjadi penyejuk lingkungan, maka di sanalah haji mabrur menjelma sebagai kekuatan sosial yang nyata.
Pulang haji mestinya bukan akhir, tapi awal dari perjalanan spiritual yang lebih panjang. Bukan sekadar mengenang Arafah dan Mina, tetapi membumikan makna-maknanya dalam kehidupan.
Komentar
Posting Komentar